Penelitian Tindakan Kelas (PTK)
Penelitian Tindakan Kelas (PTK)
PENELITIAN TINDAKAN KELAS
PENDAHULUAN
Penelitian tindakan sudah sering dilakukan oleh para peneliti, namun
hasilnya kurang dirasakan dampaknya dalam usaha meningkatkan kualitas
pembelajaran di kelas. Hal ini terutama disebabkan karena penelitian
pendidik yang dilakukan oleh lembaga penelitian permasalahan yang
diangkat kurang mengangkat kondisi nyata yang terjadi di sekolah, kurang
berkaitan langsung dengan sumber masalahnya, mereka kurang memahami,
kurang melakukan identifikasi masalah yang ada dan dirasakan sehari-hari
oleh para pendidik di depan kelas. Disamping itu penyebarluasan hasil
penelitian kepada guru (praktisi) sangat jarang dan memakan waktu yang
sangat lama. Para pendidik sangat berharap ada masukan dari hasil
penelitian yang
mampu membantu mengatasi masalah pembelajaran di kelas. Namun belum
terwujud, bahkan pendidik sendiri kemampuan meneliti masih rendah.
Rendahnya kemampuan para pelaksana pendidikan di lapangan sangat
berpengaruh positif terhadap upaya untuk meningkatkan kualitas
pendidikan.
Salah satu strategi untuk meningkatkan kualitas pendidikan adalah dengan
memberikan kesempatan kepada para pendidik atau tenaga kependidikan
untuk menyelesaikan masalah-masalah pembelajaran dan lainnya secara
profesional dan kolaboratif lewat penelitian tindakan.
Upaya peningkatan kompetensi pendidik
tenaga kependidikan, untuk menyelesaikan masalah-masalah pembelajaran
akan memberi dampak positif dan ganda. Pertama, kemampuan dalam
mengatasi dan penyelesaikan masalah pembelajaran akan semakin meningkat,
kedua, penyelesaian masalah pembelajaran melalui sebuah investasi akan
dapat meningkatkan kualitas isi, masukan, proses, saranaJprasarana, dan
hasil belajar, ketiga, peningkatan kedua kemampuan tersebut akan
bernuansa pada peningkatan kualitas lulusan.
PENGERTIAN PENELITIAN TINDAKAN KELAS
Saat ini PTK sedang berkembang dengan pesatnya di negara-negara maju
seperti Inggris, Amerika, Australia, Canada. Para ahli penelitian
pendidikan akhir-akhir ini manaruh perhatian yang cukup besar terhadap
PTK,
mengapa demikian ? Karena jenis penelitian ini mampu menawarkan cara
dan prosedur baru untuk memperbaiki dan meningkatkan profesionalisme
pendidik dalam proses belajar mengajar di kelas dengan melihat pada
siswa. Bahkan McNiff (1992 : 1) dalam bukunya yang berjudul Action
Research Principles and Practice memandang PTK sebagai bentuk penelitian
yang reflektif yang dilakukan oleh pendidik sendiri kurikulum,
pengembangan sekolah, meningkatkan prestasi belajar, pengembangan
keahlian mengajar dan sebagainya.
Dalam PTK pendidik dapat melihat sendiri terhadap praktek pembelajaran
atau bersamaan guru lain yang ia dapat melakukan penelitian terhadap
siswa dilihat dari segi aspek interaksinya dalam proses pembelajaran.
Dalam PTK guru secara refektif dapat menganalisis mensintesis terhadap
apa yang telah dilakukan di kelas. Pendek kata, dengan melakukan
penelitian tindakan, akan dapat memperbaiki praktek-praktek pembelajaran
sehingga menjadi lebih efektif.
Haruslah pendidik mengorbankan proses pembelajaran demi melakukan PTK?
Jawabnya tentu tidak. Justru dengan melakukan PTK akan dapat
meningkatkan kualitas proses dan produk pembelajarannya. Penelitian
tindakan kelas tidak harus membebani pekerjaan pendidikan dalam,
kesehariannya. Jika dilakukan secara kolaboratif yang bertujuan
memperbaiki proses pembelajaran tidak akan mempengaruhi materi
pelajaran. Oleh sebab itu pendidik tidak perlu takut terganggu dalam
mencapai target kurikulumnya jika akan melaksanakan PTK.
Penelitian tindakan kelas juga dapat menjembatani kesenjangan antara
teori dan praktek pendidikan. Hal ini terjadi karena kegiatan tersebut
dilaksanakan sendiri, di kelas sendiri, dengan melibatkan siswanya
sendiri melalui sebuah tindakan-tindakan yang direncakan, dilaksanakan,
dan di evaluasi. Dengan demikian diperoleh umpan balik yang sistematik
mengenai apa yang selama ini dilakukan dalam kegiatan belajar mengajar.
Disamping itu dapat dibuktikan suatu teori belajar mengajar untuk
diterapkan dengan baik di kelas yang ia tekuni. Jika sekiranya ada teori
yang tidak cocok dengan kondisi di kelasnya, melalui PTK pendidik dapat
mengadaptasikan teori lain untuk kepentingan proses dan atau produk
belajar yang lebih efektif, optimal, fungsional. Selanjutnya PTK,
dilihat, dirasakan dan dihayati kemudian muncul pertanyaan apakah
praktek-praktek pembelajaran yang selama ini dilakukan memiliki
efektivitas yang tinggi. Jika dengan penghayatannya itu dapat
disimpulkan bahwa praktek-praktek pembelajaran tertentu seperti :
pemberian pekerjaan rumah kepada siswa yang terlalu banyak, umpan balik
yang bersifat verbal terhadap kegiatan di kelas efektif, cara bertanya
pendidik kepada siswa di kelas tidak mampu merangsang siswa untuk
berfikir dan sebaliknya maka dapat dirumuskan secara tentatif tindakan
tertentu untuk memperbaiki keadaan tersebut dengan melalui prosedur PTK.
PTK terkait dengan persoalan praktek pembelajaran sehari-hari yang
dihadapi oleh para guru. Sebagai contoh, jika pendidik menghadapi
persoalan rendahnya minat baca siswa, jika pendidik ini sangat
menghambat rendahnya minat baca siswa, sehingga konsisi ini sangat
menghambat pencapaian tujuan kurikuler. Dengan penelitian tindakan kelas
dapat dicoba berbagai tindakan yang berupa program pembelajaran
tertentu, seperti mencoba cerita-cerita lokal, menggunakan buku yang
memiliki cerita lucu, dan sebagainya. Dari program pembelajaran yang
dirancang sebagai bentuk PTK akhirnya guru dapat memperbaiki persoalan
rendahnya minat baca siswanya. Sebaliknya jika sebenarnya siswa telah
memiliki minat baca yang tinggi, akan tetapi tidak dapat memanfaatkan
bahan bacaan secara tepat, guru juga dapat melakukan PTK untuk mencari
dan memilih secara tepat terhadap kesalahan siswa dalam memanfaatkan
bahan bacaan yang kurang fungsional.
Dari uraian di atas dapat diartikan bahwa penelitian tindakan sebagai
suatu bentuk investigasi yang bersifat reflektif partisipasif,
kolaboratif dan spiral, yang memiliki tujuan untuk melakukan
perbaikan-perbaikan terhadap sistem, cara kerja, proses, isi,
kompetensi, dan situasi.
Gambar l. Spiral Penelitian Tindakan Kelas (Hopkins, 1993.p)
Daur ulang dalam penelitian tindakan diawali dengan perencanaan tindakan
(Planning), penerapan tindakan (action), mengobservasi, mengevaluasi
proses dan hasil tindakan (observation and evaluation), melakukan
refleksi (reflecting), dan seterusnya sampai perbaikan atau peningkatan
yang diharapkan tercapai (kriteria keberhasilan).
Beberapa hal yang perlu dipahami tentang penelitian tindakan kelas.
1. PTK adalah suatu pendekatan untuk meningkatkan pendidikan dengan
melakukan perubahan terhadapnya dan pembelajaran sebagai konsekuensi
terjadinya perubahan.
2. PTK adalah partisipatori, melibatkan orang yang melakukan kegiatan untuk meningkatkan praktiknya sendiri.
3. PTK dikembangkan melalui suatu self-reflective spiral; a spiral of
cycles of plunning, acting, observing, reflecting.. the re planning.
4. PTK adalah kolaboratif, melibatkan partisipan bersama-sama bergabung
untuk mengkaji praktek dan mengembangkan pemahaman tentang makna
tindakan.
5. PTK menumbuhkan kesadaran diri mereka yang berparsipasi dan berkolaborasi dalam seluruh tahapan PTK.
6. PTK adalah proses belajar yang sistematik, dalam proses tersebut
menggunakan kecerdasan kritis membangun komitmen melakukan tindakan.
7. PTK memerlukan orang untuk membangun teori tentang praktek mereka (Guru).
8. PTK memerlukan gagasan dan asumsi ke dalam praktek untuk mengkaji
secara sismatik bukti yang menantangnya (memberikan hipotesis tindakan).
9. PTK memungkinkan kita untuk memberikan rasional justifikasi tentang
pekerjaan kita terhadap orang lain dan membuat orang menjadi kritis
dalam analisis. (Mc Taggart, 1997).
TUJUAN DAN MANFAAT PTK
Apa tujuan kita melakukan perbaikan praktek pembelajaran? Saat ini
perkembangan masyarakat dan pendidikan begitu cepat. Akibatnya tuntutan
terhadap layanan pendidikan yang harus dilakukan oleh pendidik juga
meningkat, penelitian tindakan merupakan salah satu cara yang strategis
bagi pendidik untuk meningkatkan dan atau memperbaiki layanan pendidikan
bagi pendidik dalam kontek pembelajaran di kelas. Bahkan Nc Niff (1992)
menegaskan bahwa dasar utama bagi dilaksanakannya penelitian tindakan
kelas adalah untuk perbaikan. Kata perbaikan di sini terkait dengan
memiliki konteks dengan proses pembelajaran. Jika tujuan utama
penelitian tindakan kelas adalah untuk perbaikan dan peningkatan layanan
profesional pendidik dalam menangani proses belajar mengajar, bagaimana
tujuan itu dapat dicapai? Tujuan itu dapat dicapai dengan melakukan
berbagai tindakan alternatif dalam memecahkan berbagai persoalan
pembelajaran. Oleh karena itu fokus penelitian tindakan kelas adalah
terletak pada tindakan-tindakan alternatif yang direncanakan oleh
pendidik, kemudian dicobakan dan kemudian dievaluasi apakah
tindakan-tindakan alternatif itu dapat digunakan untuk memecahkan
persoalan pembelajaran yang sedang dihadapi oleh pendidik.
Jika perbaikan dan peningkatan layanan profesional tenaga kependidikan
dalam konteks pembelajaran dapat terwujud berkat diadakannya penelitian
tindakan kelas, ada tujuan penyerta yang juga dicapai sekaligus dalam
kegiatan pendidikan itu. Tujuan penyerta apa itu?. Tujuan penyerta yang
dapat dicapai ialah berupa terjadinya proses latihan dalam jabatan dan
penelitian layanan pembelajaran. Dengan demikian akan lebih banyak
berlatih mengaplikasikan berbagai tindakan alternatif sebagai upaya
meningkatkan layanan pembelajaran dari perolehan pengetahuan umum dalam
bidang pendidikan yang dapat diaplikasikan.
Penelitian yang menggunakan rancangan penelitian tindakan kelas umumnya diarahkan pada pencapaian sasaran sebagai berikut :
a. Memperhatikan dan rneningkatkan kualitas isi, masukan, proses dan hasil, pembelajaran
b. Menumbuh-kembangkan budaya meneliti tenaga kependidikan agar lebih proaktif mencari solusi terhadap permasalahan pembelajaran
c. Menumbuhkan dan meningkatkan produktivitas meneliti para tenaga
kependidikan, khususnya mencari solusi masalah-masalah pembelajaran
d. Meningkatkan kolaborasi antar pendidikan dan tenaga kependidikan dalam memecahkan masalah pembelajaran. .
Dengan kata lain guru akan lebih banyak mendapatkan pengalaman tentang
keterampilan praktek pembelajaran secara reflektif dan bukan bertujuan
untuk mendapatkan ilmu baru dari penelitian tindakan yang dilakukan itu.
Borg (1996) juga menyebut secara eksplisit bahwa tujuan utama
penelitian tindakan kelas ialah pengembangan keterampilan yang dihadapi
oleh guru di kelasnya, dan bukannya bertujuan untuk pencapaian
pengetahuan umum dalam bidang pendidikan.
Banyak manfaat yang dapat diraih dengan dilakukannya penelitian tindakan
kelas. Manfaat itu antara lain dapat dilihat dlan dikaji dalam beberapa
komponen pendidikan dan atau pembelajaran di kelas kemanfaatan yang
terkait dengan komponen pembelajaran antar lain mencakup :
1. Inovasi pembelajaran
2. Pengembangan kurikulum di tingkat regional / nasional
3. Peningkatan profesionalisme pendidikan
Dengan memahami dan kemudian mencoba melaksanakan penelitian tindakan,
diharapkan kemampuan pendidik dalam proses pembelajaran makin meningkat
kualitasnya dan sekaligus meningkatkan kualitas pendidikan serta
pendidik / tenaga kependidikan yang sekarang menjadi hambatan utama.
KARAKTERISTIK PENELITIAN TINDAKAN KELAS
Semua penelitian memang berupaya untuk memecahkan suatu problema.
Dilihat dari segi problema yang harus dipecahkan, penelitian tindakan
kelas memiliki karakteristik penting yaitu bahwa problema yang diangkat
sehari-hari yang dihadapi oleh guru di kelas. PTK akan dapat
dilaksanakan jika pendidik sejak awal memang menyadari adanya persoalan
yang terkait dengan proses dan produk pembelajaran yang dihadapi di
kelas. Kemudian dari persoalan itu pendidik menyadari pentingnya
persoalan tersebut untuk dipecahkan secara profesional.
Jika pendidik merasa bahwa apa yang dia praktekkan sehari-hari di kelas
tidak bermasalah, PTK tidak diperlukan melihat sendiri apa yang telah
dilakukannya selama mengajar di kelas. Dapat terjadi guru telah berbuat
kekeliruan selama bertahun-tahun dalam proses belajar mengajar namun
tidak diketahui. Oleh sebab itu mereka meminta bantuan orang lain untuk
melihat apa yang selama ini dilakukan dalam proses belajar mengajar di
kelasnya.
Dalam konteks seperti itu seorang guru dan guru lain/kepala sekolah
dapat bersama berdiskusi untuk mencari dan merumuskan persoalan di
kelas. Dengan demikian guru beserta temannya dapat melakukan penelitian
tindakan kelas secara kolaboratif. Dari sini akan muncul kesadaran
terhadap kemungkinan adanya banyak masalah yang diperbuat selama
melaksanakan proses belajar mengajar. Jika seorang guru bersedia
melakukan PTK secara kolaboratif dengan guru lain, banyak manfaat dalam
meningkatkan kariernya. Karya tulis ilmiah semakin diperlukan oleh guru
di masa depan. Penelitian tindakan kelas secara kolaboratif akan mampu
menawarkan peluang yang luas terhadap terciptanya karya tulis sambil
mengajar para pakar yang lebih berbobot.
Karakteristik berikutnya dapat dilihat dari bentuk kegiatan penelitian
itu sendiri. Penelitian tindakan kelas memiliki karakteristik yang khas,
yaitu adanya tindakan-tindakan (aksi) tertentu untuk memperbaiki proses
belajar mengajar di kelas. Tanpa tindakan tertentu, suatu penelitian
juga dapat dilakukan di dalam kelas, yang kemudian sering disebut dengan
\"Penelitian Kelas\". Misalnya penelitian mengenai tingkat seringnya
siswa dalam membolos, sering berkelahi dan sebagainya, jika penelitian
ini dilakukan tanpa disertai tindakan-tindakan tertentu, maka jenis
penelitian yang dicontohkan hanya sekedar ingin tahu, tidak ingin
memperbaiki keadaan melalui tindakan-tindakan tertentu.
Sebaliknya jika dengan penelitian ini, guru m.encoba berbagai tindakan
mencegah terjadinya siswa membolos, sehingga proses belajar mengajar
berjalan dengan baik dan efektif, baru penelitian ini termasuk dalam
kategori penelitian tindakan kelas. Tindakan untuk mencegah tingginya
siswa membolos mungkin dapat berbentuk diciptakannya sistem presensi
yang dilakukan oleh siswa sendiri mungkin dapat berbentuk pengalihan
pengawasan secara kelompok oleh siswa sendiri. Mungkin dapat diciptakan
sistem ulangan harian pada hari-hari di mana siswa yang biasa melakukan
tindakan membolos, dan sebagainya.
Dengan PTK, kasus menunjukkan adanya perubahan ke arah perbaikan dan
peningkatan secara positif. Dengan diadakan tindakan tertentu harus
membawa perubahan ke arah perbaikan. Bila dengan tindakan justru membawa
kelemahan penurunan atau perubahan negatif berarti hal tersebut
menyalahi prinsip PTK. Kriteria keberhasilan atas tindakan dapat
berbentuk kualitatif/kuantitatif. Penelitian PTK tidak untuk
digeneralisasian sebab hanya dilakukan di kelas tertentu dan waktu
tertentu.
Di samping karakteristik tersebut ada
prinsip PTK
yang perlu diperhatikan. Penelitian tindakan kelas memiliki tiga ciri
pokok, yaitu :1) inkuiri reflektif, 2) kolaboratif, dan 3) reflektif.
1) Inkuiri reflektif. Penelitian kelas berangkat dari
permasalahan pembelajaran riil yang sehari-hari dihadapi oleh guru dan
siswa. Jadi, kegiatan penelitian berdasarkan pada pelaksanaan tugas
(practice driven) dan pengambilan tindakan untuk memecahkan masalah yang
dihadapi (action driven). Masalah yang menjadi fokus adalah
permasalahan yang spesifik dan kontekstual, sehingga tidak terlalu
merisaukan tentang kerepresentatifan sampel dalam rangka generalisiasi.
Tujuan penelitian tindakan kelas bukanlah untuk menemukan pengetahuan
baru yang dapat diberlakukan secara meluas. Tujuan penelitian tindakan
adalah untuk memperbaiki praktis secara langsung, di sini dan sekarang
(Raka Joni, 1998).
Penelitian tindakan kelas menggunakan metodologi yang agak longgar,
khususnya dalam kalibrasi instrumen penelitian. Namun demikian,
penelitian tindakan tetap menerapkan metodologi yang taat azas
(diciplined inquiri) dalam hal pengumpulan data yang menekankan pada
obyektif sehingga memungkinkan terselenggaranya peninjauan ulang oleh
sejawat (peer review). Proses dan temuan penelitian tindakan kelas
didokumentasikan secara rinci dan cermat. Proses dan temuan dilakukan
melalui observasi, evaluasi, dan refleksi sistematik dan mendalam
(McNiff.1992:9). Penelitian tindakan kelas dapat disimpulkan sebagai
suatu inkuiri reflektif (sel-reflective-inquiry).
2) Kolaboratif. Upaya perbaikan proses dan hasil pembelajaran
tidak dapat dilakukan sendiri oleh guru, tetapi la harus berkolaborasi
dengan guru lain atau pakar/ahli. Penelitian tindakan kelas merupakan
upaya bersama dari berbagai pihak untuk mewujudkan perbaikan yang
diinginkan. Kolaborasi ini tidak bersifat basa ¬basi, tetapi harus
tertampilkan dalam keseluruhan proses perencanaan, pelaksanaan
penelitian tindakan kelas tersebut (perencanaan, pelaksanaan tindakan,
observasi-evaluasi, dan refleksi), sampai dengan menyusun laporan hasil
penelitian.
3) Reflektif. Penelitian tindakan kelas memiliki ciri khusus,
yaitu sikap reflektif yang berkelanjutan. Berbeda dengan pendekatan
penelitian formal, yang sering mengutamakan pendekatan eksperimental,
penelitian tindakan kelas lebih menekankan pada proses refleksi terhadap
proses dan hasil penelitian secara terus menerus untuk mendzpatkan,
penjelasan dan justifikasi tentang kemajuan, peningkatan, kemunduran,
kekurangefektifan, dan sebagainya dari pelaksanaan sebuah tindakan untuk
dapat dimanfaat-gunakan memperbaiki proses tindakan pada siklus
kegiatan lainnya.
PRINSIP-PRINSIP PENELITIAN TINDAKAN KELAS
Hopkins (1993: 57-61) menyebutkan ada 6 prinsip dasar yang melandasi penelitian tindakan kelas.
1) Prinsip pertama bahwa tugas guru yang utama adalah menyelenggarakan
pembelajaran yang baik dan berkualitas. Untuk itu, guru memiliki
komitmen dalam mengupayakan perbaikan dan peningkatan kualitas
pembelajaran secara terus menerus. Dalam menerapkan suatu tindakan yang
dipilih tidak/ kurang berhasil, maka la harus tetap berusaha mencari
alternatif lain. Guru harus menggunakan pertimbangan dan tanggungjawab
profesionalnya dalam mengupayakan jalan keluar dari permasalahan yang
dihadapi dalam pembelajaran. Prinsip pertama ini berimplikasi pada sifat
penelitian tindakan sebagai suatu upaya yang berkelanjutan secara
siklus sampai terjadinya peningkatan, atau \"kesembuhan\" sistem,
proses, hasil, dan sebagainya.
2) Prinsip kedua bahwa meneliti merupakan bagian integral dari
pembelajaran, yang tidak menuntut kekhususan waktu maupun metode
pengumpulan data. Tahapan-tahapan penelitian tindakan selaras dengan
pelaksanaan pembelajaran, yaitu : persiapan (planning), pelaksanaan
pembelajaran (action), observasi kegiatan pembelajaran (observation),
evaluasi proses dan hzsil pembelajaran (evaluation), dan refleksi dari
proses dan hasil pembelajaran (reflection). Prinsip kedua ini
mengisyaratkan agar proses dan hasil pembelajaran direkam dan dilaporkan
secara sistemik dan terkendali menurut kaidah ilmiah.
3) Prinsip ketiga bahwa kegiatan meneliti, yang merupakan bagian
integral dari pembelajaran, harus diselenggarakan dengan tetap bersandar
pada alur dan kaidah ilmiah. Alur pikir yang digunakan dimulai masalah,
pemilihan tindakan yang sesuai dengan permasalahan dan penyebabnya,
merumuskan hipotesis tindakan yang tepat, penetapan skenario tindakan,
penetapan prosedur pengumpulan data dan analisis data. Obyektivitas,
reliabilitas, dan validitas proses, data, dan hasal tetap dipertahankan
selama penelitian berlangsung. Prinsip ketiga ini mempersyaratkan bahwa
dalain menyelenggarakan penelitian tindakan agar tetap menggunakan
kaidah-kaidah ilmiah.
4) Prinsip keempat bahwa masalah yang ditangani adalah masalah-masalah
pembelajaran yang riil merisaukan tanggungjawab profesional dan komitmen
terhadap diagnosis msaalah bersandar pada kejadian nyata yang
berlangsung dalam konteks pembelajaran yang sesungguhnya. Bila
pendiagnosisan masalah berdasar pada kajian akademik atau kajian
literatur semata, maka penelitian tersebut dipandang sudah melanggar
prinsip ke-otentikan masalah. Jadi masalah harus didiagnosis dari kancah
pembelajaran yang seungguhnya, bukan sesuatu yang dibayangkan akan
terjadi secara akademik.
5) Prinsip kelima bahwa konsistensi sikap dan kepedulian dalam
memperbaiki dan meningkatkan kualitas pembelajaran sangat diperlukan.
Hal irii penting karena upaya peningkatan kualitas pembelajaran tidak
dapat ditakukan sambil lalu, tetapi menuntut perencanaan dan
pelaksanaaii yang sungguh-sungguh. Oeh karena itu, motivasi untuk
memperbaiki kualitas harus tumbuh dari dalam (motivasi intrinsik), bukan
sesuatu yang bersifat instrumental.
6) Prinsip keenam adalah cakupan permasalahan penelitian tindakan tidak
seharusnya dibatasi pada masalah pembelajaran di kelas, tetapi dapat
diperluas pada tataran di luar kelas, misalnya : tataran sistem atau
lembaga. Perspektif yang lebih luas akan memberi sumbangan lebih
signifikan terhadap upaya peningkatan kualitas pendidikan.
PROSEDUR PELAKSANAAN PENELITIAN TINDAKAN KELAS
Salah satu isu yang menarik untuk dibahas bagaimana langkah-langkah
praktis pelaksanaan penelitian tindakan kelas tersebut dapat dijabarkan.
Oeh sebab itu, tulisan ini akan berfokus pada kegiatan-kegiatan pokok
seperti : (i) planning, (ii) acting, (iii) observing, (iv) reflecting.
Kegiatan-kegiatan ini disebut dengan satu siklus kegiatan pemecahan
masalah. Bila satu siklus belum menunjukkan tanda-tanda perbaikan
(peningkatan mutu), kegiatan riset dilanjutkan pada siklus kedua, dan.
seterusnya, sampai peneliti merasa puas.
Berikut ini adalah penjelasan dari masing-masing langkah kegiatan
Planning (perencanaan)
Yang termasuk dalam kegiatan planning adalah sebagai berikut : (i)
Identifikasi masalah, (ii) identifikasi (analisis) penyebab masalah dan
(iii) pengembangan intervensi (action/solution).
Identifikasi masalah merupakan tahap pertama dalam serangkaian
tahap-¬tahap penelitian. Oleh sebab itu identifikasi masalah merupakan
tahap kualitas masalah yang diteliti. Masalah-masalah yang asal-asalan
(yang kurang teridentifikasi) dapat menyebabkan pemborosan energi, sebab
riset tidak membawa temuan yang bermanfaat. Sebagaimana disinggung oleh
tulisan sebelumnya, tidak semua masalah pendidikan dapat didekati
dengan riset CAR. Untuk itu, beberapa langkah berikut diikuti dengan
seksama sebagai cara untuk menemukan masalah yang dapat didekati dengan
CAR :
(a) Masalah harus rill dan on-the job problem oriented, artinya masalah
tersebut di bawah kewenangan seorang guru untuk memecahkan. Masalah itu
juga datang dari pengamatan (pengalaman) seorang guru sendiri
sehari-¬hari, bukan datang dari pengamatan orang lain. Masalah itu
dilihat/diamati/dirasakan dalam pelaksanaan tugas mengajar sehari-hari.
Sebagai contoh : menurut data kelas (sekolah) ditemukan bahwa (i)
seoagian besar siswa (75%) tidak dapat menguasai keterampilan matematika
dasar, (ii) mayoritas siswa (> 85%) tidak berminat belajar bahasa
inggris. Masalah-masalah yang nyata (bukan imaginer), karena memang
didukung dengan data-data empiris seperti data kelas, data sekolah
observasi, dan catatan-catatan harian.
(b) Masalah harus problematik (artinya masalah tersebut perlu
dipecahkan). Tidak semua masalah pendidikan (pembelajaran) yang nyata
(rill) adalah masalah-masalah yang problematik, sebab : (i) pemecahan
masalah tersebut kurang mendapat dukungan
literatur/sarana-prasarana/birokrasi, (ii) pemecahan masalah belum
mendesak dilaksanakan, dan (iii) ternyata guru tidak mempunyai wewenang
penuh untuk memecahkan. Sebagai contoh : mayoritas siswa tidak dapat
membaca buku teks bahasa Indonesia dapat merupakan masalah yang kurang
problematik bagi seorang guru biologi. Masalah ini lebih merupakan
tanggung jawab (kewenangan) seorang guru bahasa Indonesia.
(c) Masalah harus memberi manfaat yang jelas, artinya pemecahan masalah
tersebut akan memberi manfaat yang jelas/nyata. Untuk itu; pilihlan
masalah-masalah riset yang memiliki asas manfaat secara jelas. Untuk
apa, yang akan terjadi, bila masalah tersebut dilontarkan beberapa
pertanyaan sebagai berikut : (i) apa yang akan terjadi bila masalah
tersebut dipecahkan?, (ii) resiko apa yang paling jelek bila masalah
tersebut tidak segera dipecahkan, dan (iii) tujuan pendidikan yang mana
yang tidak tercapai, bila masalah tersebut tidak segera dipecahkan.
Jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan tersebut dapat membimbing pada
penemuan masalah-masalah riset yang mendesak untuk dipecahkan.
(d) Masalah riset CAR harus feasible (dapat dipecahkanlditangani). Bila
dilihat dari sumber daya peneliti (waktu, dana, minggu efektif semester,
dukungan birokrasi, dan seterusnya) masalah tersebut dapat dipecahkan.
Dengan kata lain, tidak semua riset yang sudah riil problematik dan
manfaatnya jelas, selalu feasible. Untuk itu, harus dipilih
masalah-masalah yang feasible dengan pertimbangan faktor-faktor
pendukung di atas. Perumusan masalah setelah teridentifikasi, dapat
dirumuskan ke dalam kalimat pernyataan sehingga tidak aspek-aspek (what,
when, who, where, why, how much).
Secara jelas, sebagai contoh :
(i) Sekurang-kurangnya 85% siswa kelas II SMP Negeri 4 Samarinda pada
tahun ajaran 2002/2003 Semester II tidak dapat membaca teks bahasa
Inggris dengan lancar.
(ii) Mayoritas (> 75%) siswa kelas III IPA 2 SMP Negeri 4 Samarinda
tidak dapat menguasai perubahan bentuk kata (kata sifat ke kata benda)
dalam pelajaran menulis bahasa Inggris tahun ajaran 2002/2003.
Identifikasi penyebab masalah (problem causes) merupakan langkah kedua
planning yang penting dilakukan. Setelah mendapatkan masalah riil,
problematik, bermanfaat dan feasible, langkah selanjutnya adalah
identifikasi penyebab masalah tersebut. Melalui brainstorming (secara
kolaboratif), analisis penyebab munculnya masalah dapat dijabarkan
dengan mudah. Dengan memahami berbagai kemungkinan penyebab masalah
tersebut, suatu tindakan (alternative soluting/action) dapat
dikembangkan. Untuk mematikan akar penyebab masalah tersebut, beberapa
cara koleksi data diterapkan, misalnya : (a) mengembangkan angket, (b)
mewancarai siswa, dan (c) melakukan observasi langsung di kelas.
Dari berbagai kemungkinan penyebab masalah dicoba diidentifikasi dan
dianalisis untuk menentukan penyebab yang paling mungkin (the most
probable cause) data-data (informasi) dikumpulkan lewat (i) angket, (ii)
wawancara mendalam, dan (ii) observasi kelas. Informasi-informasi
(data) tersebut kemudian dianalisis (secara kolaboratif) dan
disimpulkan. Ternyata melalui hasil kolaborasi dan analisis data,
penyebab sesungguhnya adalah kualitas B-M yang tidak kondusif
(mendukung/mendorong) bagi siswa untuk bahasa Inggris. Umumnya siswa
menganggap bahwa akar penyebab masalah adalah kualitas belajar mengajar
yaitu :
- Proses belajar mengajar satu arah
- Pelajaran bahasa Inggris kurang membekali siswa
- Pelaksanaan sistem pelajaran semester tidak berjalan dengan baik
Dari sinilah bentuk intervensi (action/soluting) AR dapat dikembangkan
secara lebih cepat. Pengembangan intervensi (solution/action) merupakan
langkah ke-3 dalam planning yang penting juga untuk diperhatikan
intervensi dikembangkan berdasarkan, akar penyebab masalah itu.
Intervensi yang dipilih haruslah yang terdukung oleh sumber daya yang
ada. Sebagai contoh : kalau akar penyebab adalah mutu proses B-M,
melalui kolaborasi saya mengembangkan berbagai kemungkinan (alternatif)
rencana tindakan (intervensi) seperti (i) menggunakan metode diskusi,
(ii) peningkatan program
orientasi sekolah, (iii) peningkatan mutu pelajaran tugas semester, (iv)
peningkatan mutu bimbingan penulisan karya tulis (v) dst.... dst....
dari berbagai alternatif tersebut, disaring kembali berdasarkan
faktor-faktor pendukung yang ada, yaitu : (a) waktu, (b) biaya, (c) cost
yang lain, (d) dukungan saranalprasarana, (e) dukungan lembaga, (f)
dst......
Pendek kata, untuk memutuskan intervensi (action/solution) yang
dikembangkan pada siklus pertama, peneliti berfikir (kemudian
berkolaborasi) tentang faktor-faktor kekuatan dan kelemahan yang ada.
Langkah ini disebut sebagai analisis medan kekuatan (Force Field
Analysis), artinya diputuskan intervensi yang terdukung oleh
faktor-faktor kekuatan yang ada. Setelah mempertimbangkan feasibility
intervensi tersebut, diputuskan bentuk intervensi yang paling mungkin
dilakukan, sebagai contoh : supervisi riset yang efektif. Inilah
intervensi (action/solution) yang ditawarkan untuk siklus AR.
Acting
Action (intervensi) dilaksanakan untuk memperbaiki masalah.
Langkah-langkah praktis tindakan diuraikan. Apa yang pertama kali
dilakukan ? Bagaimana organisasi kelas? Siapa yang perlu menjadi
kolaborator? Siapa yang mengambil data? Pada saat pelaksanaan ini
(acting), guru harus mengambil peran dalam pemberdayaan siswa sehingga
mereka menjadi agen of change bagi diri dan kelas. Kelas diciptakan
sebagai komunitas belajar (learming community) daripada laboratorium
tindakan. Jadi, cara-cara empiris membagi kelas menjadi kelompok kontrol
dan treatment harus dihindarkan.
Observating
Observating adalah kegiatan pengamatan (pengambilan data) untuk memotret
sejauh mana efek tindakan telah mencapai sasaran. Efek dari suatu
intervensi (action terus dimonitor secara reflektif). Data-data apa saja
yang perlu dikumpulkan? Data kuantitatif tetang kemajuan siswa (nilai)
dan data kualitatif (minat / suasana kelas) perlu dikumpulkan. Pendek
kata, pada langkah ini, peneliti menguraikan jenis-jenis data yang
dikumpulkan, cara pengumpulan data dan alat koleksi data
(angket/wawancara/observasi, dan lain-lain) tentang fenomena kelas yang
dibuat siswa dan guru meru infortnasi yang berharga.
Reflekting
Reflection adalah kegiatan mengulas secara kritis (reflective) tentang
perubahan yang terjadi (i) pada siswa, (ii) suasana kelas, (iii) guru.
Pada tahap ini, guru sebagai peneliti menjawab pertanyaan mengapa (why),
bagaimana (how), dan sejauh mana (to what extent) intervensi telah
menghasilkan perubahan secara signifikan. Kolaborasi dengan rekan
(termasuk para ahli) akan memakan peran sentral dalam memutuskan
\"Judging the value\" (seberapa jauh action telah membawa perubahan :
apa/dimana perubahan terjadi, mengapa demikian apa kelebihan/kekurangan,
langkah-langkah penyempurnaan dan sebagainya). Berdasarkan hasil
refleksi terebut maka peneliti/penulis mencoba untuk mengatasi
kekurangan/kelemahan yang terjadi akibat tindakan yang telah dilakukan.
Hal ini kalau ditemukan cara atau strateginya maka diperlukan rencana
untuk melaksanakan tindakan/siklus berikutnya.Dari siklus ini diharapkan
merupakan perbaikan dari siklus sebelumnya, maka tahapan pada siklus
perlu direncanakan seperti pada siklus-siklus sebelumnya.
Akhir tindakan
Kalau penelitian sudah dianggap selesai maka peneliti perlu menyusun
laporan penelitian. Apa yang diltulis dalam laporan penelitian? Yang
perlu ditulis pada laporan setidaknya menyangkut aspek yang berkaitan
dengan: (1) setting yang memberi gambaran tentang kondisi lapangan/kelas
tempat penelitian dilakukan, disertai penjelasan adanya perbedaan
antara model pembelajaran yang biasa dilakukan dengan model yang sedang
dilaksanakan lewat penelitian tindakan kelas, (2) penjelasan hasil
pelaksanaan tiap siklus dengan data lengkap hasil pengamatan disertai
hasil refleksinya. Data yang disajikan merupakan potret dari semua
kejadian selama tindakan pada siklus tertentu berlangsung, dengan
berbagai jenis metode dan instrumen yang digunakan. Data dapat
disampaikan dengan tabel/grafik disertai diskripsi dan ulasan selengkap
mungkin. (3) Sesudah semua siklus dijelaskan baru dianalisis dengan
memperhatikan dari hasil keseluruhan siklus. Langkah ini yang sering
dinamakan pembahasan. Pada bagian ini akan dapat diperolah gambaran
secara menyeluruh dengan diberikan data lengkap. Hasil pengamatan dari
siklus ke siklus dapat disusun kedalam grafik/tabel dengan diberikan
ulasan terhadap perubahan/perbaikan akibat tindakan yang dilakukan.
Untuk itulah, disarankan peneliti akan responsif terhadap perubahan yang
berkembang di kelas. Perubahan-perubahan yang terjadi pada diri murid
dipotret (disajikan sebagai bukti), seperti :
• Hasil belajar harian/tengah semester/ semester
• Perhatian dan motivasi terhadap pelajaran
• Portofolio (catatan-catatan tentang hasil prestasi murid)
• Perubahan sikap (catatan-catatan tentang hasil / prestasi murid)
Demikian pula perubahan-perubahan yang terjadi pada diri guru sebagai peneliti, seperti :
• Peningkatan pengetahuan pengelolaan kelas. Kepercayaan diri
• Peningkatan ketrampilan
• Pemahaman terhadap berbagai model pembelajaran
• Kemampuan mendeteksi perubahan akibat tindakan
Suasana perubahan pada atmosfer kelas juga disajikan, seperti suasana
kelas yang mendorong pembelajaran, penampilan kelas menyajikan tayangan
hasil siswa, suasana kelas yang lebih akrab (unhostile classroom
enviroment), perhatian siswa, sikap terhadap model pembelajaran yang
baru disampaikan dan seterusnya.
Apa yang terjadi bila dalam perjalanan siklus 1 ke siklus 2, ke siklus 3
peneliti mungkin merasa puas dan mungkin sadar identifikasi terhadap
masalah akar penyebab (the most probable cause) dirasakan kurang pas,
peneliti dapat mengulangi lagi mencari penyebab dan kemudian
mengembangkan bentuk intervensi, sehingga pada siklus ke-4, 5 dan
seterusnya dengan intervensi yang dikembangkan berbeda. Yang penting
bahwa action reserch berorientasi pada improvement yang sering kali
jalannya berkelok-kelok, akan diakhiri kepuasan hasil kerjanya, dan
mampu mengembangkan proses pembelajaran di kelas, dan akan diikuti oleh
peningkatan prestasi belajar siswa. Karena itu perlu memperhatikan
variabel yang diperkirakan mempengaruhi prestasi belajar siswa, sebatas
peneliti/guru mampu mendeteksi serta menemukan data pendukungnya. Setiap
tahun yang dihadapi para guru di kelas selalu berubah, maka
permasalahan yang dihadapi juga akan berbeda-beda. Untuk itulah maka
perlu selalu berusaha mencari cara/model untuk mengatasi lewat kegiatan
penelitian.
PROPOSAL PTK
Secara sederhana, proposal penelitian tindakan kelas dapat dirumuskan sebagai berikut :
1. JUDUL
Hendaknya dirumuskan secara singkat ,jelas, dan sederhana.
2. LATAR BELAKANG MASALAH
Penyebab terjadinya masalah (adanya kesenjangan antara yang diharapkan dengan kenyataan).
3. IDENTIFIKASI MASALAH
Identifikasi berdasarkan latar belakang masalah.
4. PEMBATASAN MASALAH
Batasan masalah yang akan diteliti sesuai kemampuan, waktu, dan serta situasi dan kondisi yang ada.
5. PERUMUSAN MASALAH
Merumuskan masalah secara jelas dan operasional.
6. TUJUAN PENELITIAN
Maksud dilaksanakannnya penelitian.
7. MANFAAT PENELITIAN
Manfaat penelitian bagi guru, sekolah, siswa, maupun orang lain.
8. KERANGKA TEORITIK DAN HIPOTESIS TINDAKAN
Landasan teori tentang objek penelitian, kerangka berpikir, serta
alternatif tindakan yang akan dilakukan untuk dapat mengatasi masalah.
9. METODOLOGI PENELITIAN
Lokasi penelitian
• Nama sekolah
• Alamat
• Kelas
• Lingkungan fisik dan sosial
Karakteristik subyek penelitian
• Komposisi siswa
• Kemampuan akademik
• Latar belakang sosial ekonomi keluarga
• Motivasi belajar
• Dll.
10. VARIABEL YANG DI TELITI ANTARA LAIN:
o Variabel input, yang terkait dengan siswa, guru, bahan pelajaran,sumber belajar, lingkungan belajar,dsb.
o Variabel proses, yang terkait dengan proses pembelajaran ,ketrampilan mengajar, implementasi metode pengajaran, dsb.
o Variabel output, seperti minat siswa, kemampuan siswa, hasil belajar siswa, dsb.
11. RANCANGAN TINDAKAN
o Perencanaan tindakan
Memuat langkah-langkah persiapan/perencanaan tindakan antara lain
1. Membuat skenario pembelajaran yang menarik, sesuai rencana tindakan yang akan dilakukan.
2. Mempersiapkan fasilitas dan sarana pendukung yang diperlukan seperti gambar-gambar, alat peraga, dsb.
3. Mempersiapakan instrumen penelitaian yang diperlukan, seperti format,
pengamatan, kuisioner, pedoman wawancara, tes prestasi dan sebagainya.
4. Melakukan simulasi pelaksanaan tindakan untuk menguji keterlakasanaan
rancangan, serta mempertebal kepercayaan diri dalam pelaksanaan
nantinya.
o Tindakan
Memuat langkah-langkah tindakan yang akan dilakukan secara terperinci, termasuk kegiatan penilaiannya.
o Observasi
Berisi prosedur pengumpulan data baik pada saat pelaksanaan tindakan dan terdapat komponen lain mendukungnya.
o Refleksi
Berisi prosedur analisis terhadap hasil pemantauan/observasi dan
refleksi berkenaan dengan proses dan dampak tindakan perbaikan yang akan
dilakukan.
12. PENGUMPULAN DATA
o Jenis data
Misal : format/lembar pengamatan, pedoman wawancara, alat evaluasi/soal, check list.
o Teknik pengumpulan data
Misal : observasi, wawancara, pre test dan post test, mencatat dokumen.
13. TIM PENELITI DAN TUGASNYA
14. INDIKATOR KINERJA
Merupakan alat ukur untuk menentukan tingkat keberhasilan dari tindakan yang telah dilakukan.
15. JADWAL PENELITIAN
16. RENCANA PEMBIAYAAN(apabila memperoleh bantuan dana).
17. DAFTAR PUSTAKA
Meskipun PTK lebih fleksibel dibanding penelitian lain namun tetap tidak diperkenankan mengabaikan kaidah-kaidah keilmuan.
LAPORAN PTK
Dilihat dari prosesnya tahap penulisan laporan penelitian terbagi menjadi 3 tahap, yaitu :
1. Perencanaan : dituangkan dalam rancangan atau proposal penelitian.
2. Pelaksanaan : berisi kegiatan pengumpulan dan analisis data
3. Pelaporan : berisi kegiatan pengkomunikasian prosedur dan temuan penelitian.
Fungsi pokok dari penulisan laporan penelitian adalah :
1. sebagai pertanggungjawaban ilmiah.
2. sebagai media informasi ilmiah.
3. sebagai masukan bagi pengambil kebijakan atau orang yang berkepentingan.
4. sebagai media sosialisasi informasi bagi masyarakat luas.
5. sebagai pertanggungjawaban administratif bagi pemberi dana penelitian
Model laporan PTK dapat menggunakan format penelitian sebagaimana
biasanya, namun ada hal khusus yang terletak pada hasil penelitian yang
berulang-ulang(sesuai jumlah siklusnya). Laporan didasarkan pada
proposal penelitian dan berkembang sesuai dengan hasil penelitian
dilapangan. Untuk PTK, format laporan dapat berbentuk sebagai berikut.
SISTEMATIKA LAPORAN PENELITIAN TINDAKAN KELAS
A. BAGIAN PEMBUKAAN
1. Halaman judul
2. Halaman pengesahan
3. Abstrak (bila diperlukan)
4. Kata pengantar
5. Daftar Isi
6. Daftar Lampiran
B. BAGIAN ISI
BAB I PENDAHULUAN
1.Latar belakang masalah
2. Rumusan Masalah
3. Tujuan Penelitian
4. Manfaat Penelitian
BAB II KAJIAN TEORI DAN PUSTAKA
BAB III METODE PENELITIAN
1. Setting (lokasi, waktu, mapel, sekolah)
2. Siklus penelitian
a. Rencana tindakan
b. Pelaksanaan tindakan
b. Pengamatan/Observasi
c. Refleksi/menganalisis dan sintesis
BAB IV HASIL PENELITIAN
1. Diskripsi setting penelitian
2. Hasil penelitian
3. Pembahasan
BAB V SIMPULAN DAN SARAN
1. Simpulan.
2. Saran
PENUTUP
Hal-hal yang perlu diperhatikan guru dalam penerapan PTK antara lain adalah:
o Memiliki kemauan untuk memperbaiki kinerja sendiri.
o Memiliki sikap keterbukaan, kesediaan menerima kritk terhadap kelemahan penampilan.
o Memandang kolaborator bukan sebagai hakim, polisi atau pengawas, tetapi sebagai pendamping guru(team –teaching).
Dengan demikian penelitian tindakan kelas merupakan kegiatan yang diperuntukkan bagi guru dengan harapan :
o Guru terbiasa melakukan perbaikan kerja.
o Guru memiliki konsesi menjadi peneliti.
o Guru bebas mengembangkan sikap inovatif secara kreatif.
o Guru terbiasa membuat alat bantu pembelajaran.
SISTEMATIKA dan PENJELASAN
JUDUL : Judul PTK hendaknya dinyatakan dengan akurat dan padat
permasalahan serta bentuk tindakan yang dilakukan peneliti sebagai upaya
pemecahan masalah. Formulasi judul hendaknya singkat, jelas, dan
sederhana namun secara tersirat telah menampilkan sosok PTK bukan sosok
penelitian formal. Judul ditulis dalam halaman judul yang dilengkapi
dengan identitas peneliti (nama dan NIP guru), lembaga/satuan pendidikan
tempat guru bekerja, dan bulan dan tahun penulisan PTK.
KATA PENGANTAR
HALAMAN PERSETUJUAN (bila diperlukan, lazimnya diketahui dan ditandatangani oleh pimpinan/kepala sekolah setempat)
DAFTAR ISI
DAFTAR LAMPIRAN
ABSTRAK : (Berisi judul, nama peneliti, uraian singkat PTK. Ditulis satu
spasi dengan jumlah kata kurang lebih 250 kata. Disertai kata kunci)
BAB I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah (Dalam latar belakang permasalahan ini
hendaknya diuraikan urgensi penanganan permasalahan yang diajukan itu
melalui PTK. Untuk itu, harus ditunjukkkan fakta – fakta yang mendukung,
baik yang berasal dari pengamatan guru selama ini maupun dari kajian
pustaka. Dukungan berupa hasil penelitian –penelitian terdahulu, apabila
ada juga akan lebih mengokohkan argumentasi mengenai urgensi serta
signifikansi permasalahan yang akan ditangani melalui PTK yang diusulkan
itu. Karakteristik khas PTK yang berbeda dari penelitian formal
hendaknya tercermin dalam uraian di bagian ini.)
B. Perumusan Masalah (Permasalahan yang diusulkan untuk ditangani
melalui PTK itu dijabarkan secara lebih rinci dalam bagian ini. Masalah
hendaknya benar – benar di angkat dari masalah keseharian di sekolah
yang memang layak dan perlu diselesaikan melalui PTK. Sebaliknya
permasalahan yang dimaksud seyogyanya bukan permasalahan yang secara
teknis metodologik di luar jangkauan PTK. Uraian permasalahan yang ada
hendaknya didahului oleh identifikasi masalah, yang dilanjutkan dengan
analisis masalah serta diikuti dengan refleksi awal sehingga gambaran
permasalahan yang perlu di tangani itu nampak menjadi perumusan masalah
tersebut. Dalam bagian ini dikunci dengan perumusan masalah tersebut.
Dalam bagian inipun, sosok PTK harus secara konsisten tertampilkan.)
C. Tujuan Penelitian (Tujuan PTK hendaknya dirumuskan secara
jelas.paparkan sasaran antara dan akhir tindakan perbaikan.perumusan
tujuan harus konsisten dengan hakekat permasalahan yang dikemukakan
dalam bagian – bagian sebelumnya. Dengan sendirinya,artikulasi tujuan
PTK berbeda dari tujuan formal. Sebagai contoh dapat dikemukakan PTK di
bidang IPA yang bertujuan meningkatkan prestasi siswa dalam mata
pelajaran IPA melalaui penerapan strategi PBM yang baru, pemanfaatan
lingkungan sebagai sumber belajar mengajar dan sebagainya. Pengujian
dan/atau pengembangan strategi PBM baru bukan merupakan rumusan tujuan
PTK. Selanjutnya ketercapaian tujuan hendaknya dapat diverfikasi secara
obyektif.Syukur apabila juga dapat dikuantifikasikan.) Disamping tujuan
PTK, juga perlu diuraikan kemungkinan kemanfaatan penelitian. Dalam
hubungan ini, perlu dipaparkan secara spesifik keuntungan – keuntungan
yang dijanjikan, khususnya bagi siswa sebagai pewaris langsung (direct
beneficiaries) hasil PTK, di samping bagi guru pelaksana PTK, bagi rekan
– rekan guru lainnya serta bagi para dosen LPTK sebagai pendidik guru.
Berbeda dari konteks penelitian formal, kemanfaatan bagi pengembangan
ilmu. Teknologi dan seni tidak merupakan prioritas dalam konteks PTK,
meskipun kemungkinan kehadirannya tidak ditolak
D. Manfaat Penelitian (Menjelaskan manfaat penelitian ini untuk
penambahan/pengembangan wawasan, manfaat aplikasi hasil penelitian bagi
keberhasilan pembelajaran siswa, bagi guru, sekolah dan mungkin pihak
lain yang relevan dengan pemanfaatan hasil penelitian ini)
.
BAB II. LANDASAN TEORI DAN PENGAJUAN HIPOTESIS
A. Tinjauan Pustaka (Pada bagian ini diuraikan landasan substantive
dalam arti teoritik dan/atau metodologik yang dipergunakan peneliti
dalam menentukan alternative, yang akan diimplementasikan. Untuk
keperluan itu, dalam bagian ini diuraikan kajian baik pengalaman
peneliti pelakju PTK sendiri nyang relevan maupun pelaku – pelaku PTK
lain disamping terhadap teori – teori yang lazim termuat dalam berbagai
kepustakaan. Argumentasi logic dan teoretik diperlukan guna menyusun
kerangka konseptual. Aras kerangka konseptual yang disusun itu,
hipotesis tindakan dirumuskan.)
B. Kerangka Pemikiran
C. Hipotesis Tindakan
BAB III METODE
PENELITIAN
(CARA
PENELITIAN
)
A. Setting Penelitian Pada bagian ini disebutkan di mana penelitian
tersebut dilakukan, di kelas berapa dan bagaimana karakteristik dari
kelas tersebut seperti komposisi siswa pria dan wanita, latar belakang
kemampuan akademik, kesulitan-kesulitan/kendala-kendala yang dihadapi
siswa dalam pembelajaran, latarbelakang sosial dan ekonomi yang mungkin
relevan dengan permasalahan dan lain sebagainya. Aspek substantive
kompetensi dan permasalahan yang dihadapi siswa dalam mata pelajaran
pada kelas yang diteliti seperti IPA atau IPS atau Matematika kelas II
SMP, juga dikemukakan pada bagian ini.
B. Subjek Penelitian (Pada bagian ini dijelaskan jumlah dan deskripsi siswa)
C. Variabel Penelitian (faktor yang diselidiki) Pada bagian ini
ditentukan variabel – variabel penelitian yang dijadikan titik – titik
incar untuk menjawab permasalahan yang dihadapi. Variabel tersebut dapat
berupa (1) variabel input yang terkait dengan siswa, guru, bahan
pelajaran, sumber belajar, prosedur evaluasi, lingkungan belajar, dan
lain sebagainya; (2) variabel proses pelanggaran KBM seperti interaksi
belajar-mengajar, keterampilan bertanya, guru, gaya mengajar guru, cara
belajar siswa, implementasi berbagai metode mengajar di kelas, dan
sebagainya, dan (3) varaibel output seperti rasa keingintahuan siswa,
kemampuan siswa mengaplikasikan pengetahuan, motivasi siswa, hasil
belajar siswa, sikap terhadap pengalaman belajar yang telah digelar
melalui tindakan perbaikan dan sebagainya.
D. Teknik pengumpulan data (Data dan Cara Pengambilannya) Pada bagian
ini ditunjukkan dengan jelas jenis data yang akan dikumpulkan yang
berkenaan dengan baik proses maupun dampak tindakan perbaikan yang di
gelar, yang akan digunakan sebagai dasar untuk menilai keberhasilan atau
kekurangberhasilan tindakan perbaikan pembelajaran yang dicobakan.
Format data dapat bersifat kualitatif, kuantitatif, atau kombinasi
keduanya. Di samping itu teknik pengumpilan data yang diperlukan juga
harus diuraikan dengan jelas seperti melalui pengamatan partisipatif,
pembuatan juranal harian, observasi aktivitas di kelas (termasuk
berbagai kemungkinan format dan alat bantu rekam yang akan
digunakan)penggambaran interaksi dalam kelas (analisis sosiometrik),
pengukuran hasil belajar dengan berbagai prosedur asesmen dan
sebagainya.selanjutnya dalam prosedur pengumpulan data PTK ini tidak
boleh dilupakan bahwa sebagai pelaku PTK, para guru juga harus aktif
sebagai pengumpul data, bukan semata – mata sebagai sumber data.
Akhirnya semua teknologi pengumpulan data yang digunakan harus mendapat
penilaian kelaikan yang cermat dalam konteks PTK yang khas itu. Sebab
meskipun mungkin saja memang menjanjikan mutu rekaman yang jauh lebih
baik. Penggunaan teknologi perekaman data yang canggih dapat saja
terganjal keras pada tahap tayang ulang dalam rangka analisis dan
interpretasi data.
E. Indikator Kinerja (Pada bagaian ini tolak ukur keberhasilan tindakan
perbaikan ditetapkan secara eksplisit sehingga memudahkan verifikasinya
untuk tindak perbaikan melalui PTK yang bertujuan mengurangi kesalahan
konsep siswa misalnya perlu ditetapkan kriteria keberhasilan dalam
bentuk pengurangan (jumlah, jenis dan atau tingkat kegawatan)
miskonsepsi yang tertampilkan yang patut diduga sebagai dampak dari
implementasi tindakan perbaikan yang dimaksud.)
F. Analisis Data (Pada bagian ini menjelaskan teknik, tata cara/prosedur
dalam menganalisis data, baik secara kualitatif maupun kuantitatif.
Bentuk/jenis data dan uji statistic yang digunakan juga dijelaskan,
misalnya rumus uji statistic dan lain-lainnya)
G. Prosedur Penelitian (langkah-langkah PTK) Pada bagian ini digambarkan
rencana tindakan untuk meningkatkan pembelajaran, seperti : (1)
Perencanaan, yaitu persiapan yang dilakukan sehubungan dengan PTK yang
diprakarsai seperti penetapan entry behavior. Pelancaran tes diagnostic
untuk menspesifikasi masalah. Pembuatan scenario pembelajaran, pengadaan
alat–alat dalam rangka implementasi PTK, dan lain–lain yang terkait
dengan pelaksanaan tindakan perbaikan yang telah ditetapkan sebelumnya.
Disamping itu juga diuraikan alternatif solusi yang akan dicobakan dalam
rangka perbaikan masalah, (2) Implementasi Tindakan yaitu deskripsi
tindakan yang akan di gelar. Scenario kerja tindakan perbaikan dan
prosedur tindakan yang akan diterapkan, (3) Observasi dan Interpretasi
yaitu uraian tentang prosedur perekaman dan penafsiran data mengenai
proses dan produk dari implementasi tindakan perbaikan yang dirancang,
dan (4) Analisis dan Refleksi yaitu uraian tentang prosedur analisis
terhadap hasil pemantauan dan refleksi berkenaan dengan proses dan
dampak tindakan perbaikan yang akan digelar, personel yang akan
dilibatkan serta kriteria dan rencana bagi tindakan siklus/daur
berikutnya. Siklus keempat langkah di atas digambar sebagai berikut :
Pengumpulan data Observasi
Strategi pembelajaran
Menyusun rencana dan skenario
Refleksi
Melakukan tindakan selanjutnya
BAB IV HASIL
PENELITIAN
A. Siklus I
B. Siklus II
C. Siklus III
D. Siklus berikutnya (jika ada)
E. Pembahasan antar siklus
Uraian tiap siklus meliputi: (a) Perencanaan tindakan (Skenario
pembelajaran), (b) Pelaksanaan tindakan (deskripsi proses pembelajaran),
(c) Pelaksanaan observasi (sajian hasil analisis data), dan (d)
Refleksi (kajian terhadap indikator kinerja terhadap hasil dan proses
pembelajaran dan analisis kritis hasil tiap siklus). ALUR BERPIKIR DALAM
PTK
BAB V SIMPULAN DAN SARAN
A. Simpulan
E. Saran
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN-LAMPIRAN