Showing posts with label BIMBINGAN KONSELING. Show all posts
Showing posts with label BIMBINGAN KONSELING. Show all posts

Tuesday, December 10, 2013

Pendidikan Karakter

Pengertian Pendidikan Karakter Menurut Ahli

Penguatan pendidikan moral (moral education) atau pendidikan karakter (character education)  dalam konteks sekarang sangat relevan untuk mengatasi krisis moral yang sedang melanda di negara kita. Krisis tersebut antara lain berupa meningkatnya pergaulan bebas, maraknya angka kekerasan anak-anak dan remaja, kejahatan terhadap teman, pencurian remaja, kebiasaan menyontek, penyalahgunaan obat-obatan, pornografi, dan perusakan milik orang lain sudah menjadi masalah sosial yang hingga saat ini belum dapat diatasi secara tuntas, oleh karena itu betapa pentingnya pendidikan karakter.
Menurut Lickona, karakter berkaitan dengan konsep moral (moral knonwing), sikap moral (moral felling), dan perilaku moral (moral behavior). Berdasarkan ketiga komponen ini dapat dinyatakanbahwa karakter yang baikdidukung oleh pengetahuan tentang kebaikan, keinginan untuk berbuat baik, dan melakukan perbuatan kebaikan. Bagan dibawah ini merupakan bagan kterkaitan ketiga kerangka pikir ini.
 Pengertian Pendidikan Karakter Menurut Ahli


Gambar: Keterkaitan antara komponen moral dalam rangka pembentukan 
Karakter yang baik menurut Lickona

Pengertian Pendidikan Karakter Menurut Ahli

1.  Pendidikan Karakter Menurut Lickona
Secara sederhana, pendidikan karakter dapat didefinisikan sebagai segala usaha yang dapat dilakukan untuk mempengaruhi karakter siswa. Tetapi untuk mengetahui pengertian yang tepat, dapat dikemukakan di sini definisi pendidikan karakter yang disampaikan oleh Thomas Lickona. Lickona menyatakan bahwa pengertian pendidikan karakter adalah suatu usaha yang disengaja untuk membantu seseorang sehingga ia dapat memahami, memperhatikan, dan melakukan nilai-nilai etika yang inti.

2.  Pendidikan Karakter Menurut Suyanto
Suyanto (2009) mendefinisikan karakter sebagai cara berpikir dan berperilaku yang menjadi ciri khas tiap individu untuk hidup dan bekerja sama, baik dalam lingkup keluarga, masyarakat, bangsa, maupun  negara.

3.  Pendidikan Karakter Menurut Kertajaya
Karakter adalah ciri khas yang dimiliki oleh suatu benda atau individu. Ciri khas tersebut adalah asli dan mengakar pada kepribadian benda atau individu tersebut, serta merupakan “mesin” yang mendorong bagaimana seorang bertindak, bersikap, berucap, dan merespon sesuatu (Kertajaya, 2010).

4.  Pendidikan Karakter Menurut Kamus Psikologi
Menurut  kamus psikologi, karakter adalah kepribadian ditinjau dari titik tolak etis atau moral, misalnya kejujuran seseorang, dan biasanya berkaitan dengan sifat-sifat yang relatif tetap (Dali Gulo, 1982: p.29).

Nilai-nilai dalam pendidikan karakter

Ada 18 butir nilai-nilai pendidikan karakter yaitu , Religius, Jujur, Toleransi, Disiplin, Kerja Keras, Kreatif, Mandiri, Demokratis, Rasa Ingin Tahu, Semangat Kebangsaan, Cinta tanah air, Menghargai prestasi, Bersahabat/komunikatif,Cinta Damai, Gemar membaca, Peduli lingkungan, Peduli social, Tanggung jawab.
Lebih jelas tentang nilai-nilai pendidikan karakter dapat di lihat pada bagan dibawah ini

nilai-nilai pendidikan karakter
18 Nilai Pendidikan Karakter

Pendidikan karakter telah menjadi perhatian berbagai negara dalam rangka mempersiapkan generasi yang berkualitas, bukan hanya untuk kepentingan individu warga negara, tetapi juga untuk warga masyarakat secara keseluruhan. Pendidikan karakter dapat diartikan sebagai the deliberate us of all dimensions of school life to foster optimal character development (usaha kita secara sengaja dari seluruh dimensi kehidupan sekolah/madrasah untuk membantu pembentukan karakter secara optimal.
Pendidikan karakter memerlukan metode khusus yang tepat agar tujuan pendidikan dapat tercapai. Di antara metode pembelajaran yang sesuai adalah metode keteladanan,  metode pembiasaan, dan metode pujian dan hukuman.

Nah demikianlah beberapa pengertian pendidikan karakter menurut para ahli, semoga bermanfaat.

Faktor Penyebab Kenakalan Remaja

Faktor Penyebab Kenakalan Remaja

kenakalan remaja Kenakalan remaja adalah salah satu masalah serius yang banyak membawa dampak negatif untuk semua pihak yang terlibat didalamnya. Untuk para remaja, mereka bisa mendapatkan hukuman pidana, untuk pihak sekolah, mereka bisa mendapatkan penilai yang buruk dari wali murid dan bahkan pemerintah. Disamping itu, kenakalan remaja juga bisa membawa dampak buruk pada para orang tua karena hal ini membuat mereka seolah-olah tidak mendidik anak mereka dengan baik dan benar.
Sebenarnya, kenakalan remaja ini bisa diminimalisir oleh pihak sekolah dan orang tua jika mereka mengetahui apa saja faktor penyebab dari masalah ini. Pada umumnya ada dua faktor yang mendasari kenakalan remaja. Faktor tersebut adalah:

Kurangnya pendidikan spiritual dan moral.
Kebanyakan pihak sekolah dan orang tua hanya fokus pada pendidikan formal mengenai bahasa, ekonomi, biologi, atau matematika saja tanpa memberikan pendidikan spiritual dan moral yang memadai. Hal inilah yang membuat kebanyakan remaja mudah dipengaruhi dengan hal-hal buruk yang bersifat merusak, seperti tawuran, perkelahian, pencurian, dll.
 
Lingkungan sekolah yang tidak tidak aman.
Maksudnya adalah tidak adanya peraturan yang tegas di dalam lingkungan sekolah sehingga pengaruh buruk dari luar sekolah bisa masuk dengan mudah. Oleh sebab itu, ada baiknya pihak sekolah segera memperbaiki kesalahan ini dan anda sebagai orang tua harus pandai membaca situasi. Maksudnya adalah dengan tidak menyekolahkan anak anda di sekolah yang lemah dalam hal peraturan.

Faktor internal:              
 
a.Krisis identitas: 
Perubahan biologis dan sosiologis pada diri remaja memungkinkan terjadinya dua bentuk integrasi. Pertama, terbentuknya perasaan akan konsistensi dalam kehidupannya. Kedua, tercapainya identitas peran. Kenakalan ramaja terjadi karena remaja gagal mencapai masa integrasi kedua.
 
b.Kontrol diri yang lemah:
Remaja yang tidak bisa mempelajari dan membedakan tingkah laku yang dapat diterima dengan yang tidak dapat diterima akan terseret pada perilaku ‘nakal’. Begitupun bagi mereka yang telah mengetahui perbedaan dua tingkah laku tersebut, namun tidak bisa mengembangkan kontrol diri untuk bertingkah laku sesuai dengan pengetahuannya.
 
 Faktor eksternal:
a. Keluarga dan Perceraian orangtua, 
tidak adanya komunikasi antar anggota keluarga, atau perselisihan antar anggota keluarga bisa memicu perilaku negatif pada remaja. Pendidikan yang salah di keluarga pun, seperti terlalu memanjakan anak, tidak memberikan pendidikan agama, atau penolakan terhadap eksistensi anak, bisa menjadi penyebab terjadinya kenakalan remaja.
b. Teman sebaya yang kurang baik
c. Komunitas/lingkungan tempat tinggal yang kurang baik.
 
Sedangkan  menurut Kumpfer dan Alvarado,
Faktor faktor Penyebab kenakalan remaja antara lain  :
a. Kurangnya sosialisasi dari orangtua ke anak mengenai nilai-nilai moral dan sosial.
b. Contoh perilaku yang ditampilkan orangtua (modeling) di rumah terhadap
     perilaku dan nilai-nilai anti-sosial.
c.Kurangnya pengawasan terhadap anak (baik aktivitas, pertemanan di 
   sekolah ataupun di luar sekolah, dan lainnya).
d. Kurangnya disiplin yang diterapkan orangtua pada anak.
e. Rendahnya kualitas hubungan orangtua-anak.
f. Tingginya konflik dan perilaku agresif yang terjadi dalam lingkungan keluarga.
g. Kemiskinan dan kekerasan dalam lingkungan keluarga.
h. Anak tinggal jauh dari orangtua dan tidak ada pengawasan dari figur otoritas lain.
i. Perbedaan budaya tempat tinggal anak, misalnya pindah ke kota lain atau 
    lingkungan baru.
j. Adanya saudara kandung atau tiri yang menggunakan obat-obat
   terlarang atau melakukan kenakalan remaja.
  Sarwono (1998) mengatakan bahwa keluarga merupakan lingkungan primer pada setiap individu. Sebelum anak mengenal lingkungan yang luas, ia terlebih dahulu mengenal lingkungan keluarganya. karena itu sebelum anak anak mengenal norma-norma dan nilai-nilai masyarakat, pertama kali anak akan menyerap norma-norma dan nilai-nilai yang berlaku di keluarganya untuk dijadikan bagian dari kepribadiannya.
           Orang tua berperan penting dalam emosi remaja, baik yang memberi efek positif maupun negative. Hal ini menunjukkan bahwa orang tua masih merupakan lingkungan yang sangat penting bagi remaja.
       Menurut Mu’tadin (2002) remaja sering mengalami dilema yang sangat besar antara mengikuti kehendak orang tua atau mengikuti kehendaknya sendiri. Situasi ini dikenal dengan ambivalensi dan hal ini akan menimbulkan konflik pada diri remaja. Konflik ini akan mempengaruhi remaja dalam usahanya untuk mandiri, sehingga sering menimbulkan hambatan dalam  penyesuaian diri terhadap lingkungan sekitarnya, bahkan  dalam beberapa kasus tidak jarang remaja menjadi frustasi dan memendam kemarahan yang mendalam kepada orang tuanya dan orang lain disekitarnya. Frustasi dan kemarahan tersebut seringkali di ungkapkan dengan perilaku perilaku yang tidak simpatik terhadap orang tua maupun orang lain yang dapat membahayakan dirinya sendiri maupun orang lain disekitarnya.
            Penilitian yang dilakukan BKKBN pada umunya masalah antara orang tua dan anaknya bukan hal hal yang mendalam seperti maslah ekonomi, agama, social, politik, tetapi hal yang sepele seperti tugas-tugas di rumah tangga, pakaian dan penampilan.
            Menurut Nalland (1998) ada beberapa sikap yang harus dimiliki orangtua terhadap anaknya pada saat memesuki usia remaja, yakni :
a. Orang tua perlu lebih fleksibel dalam bertindak dan berbicara
b. Kemandirian anak diajarkan secara bertahap dengan mempertimbangkan dan melindungi mereka dari resiko yang mungkin terjadi karena cara berfikir yang belum matang. Kebebasan yang dilakukan remaja terlalu dini akan memudahkan remaja terperangkap dalam pergaulan buruk, obat-obatan terlarang, aktifitas seksual yang tidak bertanggung jawab dll
c. Remaja perlu diberi kesempatan melakukan eksplorasi positif yang memungkinkan mereka mendapat pengalaman dan teman baru, mempelajari berbagai keterampilan yang sulit dan memperoleh pengalaman yang memberikan tantangan agar mereka dapat berkembang dalam berbagai aspek kepribadiannya.
d. Sikap orang tua yang tepat adalah sikap yang authoritative, yaitu dapat bersikap hangat, menerima, memberikan aturan dan norma serta nilai-nilai secara jelas dan bijaksana. Menyediakan waktu untuk mendengar, menjelaskan, berunding dan bisa memberikan dukungan pada pendapat anak yang benar.

macam-macam kenakalan remaja

Macam-Macam Kenakalan Remaja

          Kenakalan remaja identik dengan perbuatan yang merugikan entah itu untuk diri sendiri maupun orang lain. Selain itu kenakalan remaja juga sering diartikan sebagai pelanggaran. Sehingga kenakalan remaja tersebut sangat dekat pengertiannya dengan kriminalitas. Untuk tujuan-tujuan hukum, maka dibuatlah suatu perbedaan antara pelanggaran-pelanggaran indeks (index offenses) dengan status (status offenses). Index offenses adalah tindakan kriminal, baik yang dilakukan oleh remaja maupun orang dewasa. Contoh tindakannya seperti perampokan, penyerangan dengan kekerasan, pemerkosaan, dan pembunuhan. Status offenses adalah Tindakan yang tidak terlalu serius, tindakan seperti ini banyak dilakukan oleh anak-anak muda dibawah usia tertentu sehingga pelanggaran tersebut dikatakn sebagai pelanggaran remaja. Contohnya seperti lari dari rumah (kabur), bolos drao sekolah, meminum-minuman keras, pelacuran dan ketidak mampuan mengendalikan diri.

Dibawah ini adalah  beberapa macam kenakalan remaja, seperti :
  1. Kehamilan pada remaja
           Di Indonesia hal ini sudah mulai merajalela, dibuktikan dengan banyaknya kasus pembuangan bayi yang sebagian besar alasannya adalah karena kehamilan yang tidak diinginkan dan para pelakunya adalah sebagian besar adalah para remaja yang belum siap secara mental untuk menghadapi respon lingkungannya akibat dari apa yang dia perbuat, namun nilai-nilai agama masih sangat melekat erat di Indonesia. Berbeda dengan Amerika yang memiliki angka kehamilan remaja terbesar pertama di bandingkan dengan negara-negara barat. Faktanya yaitu setiap tahun lebih dari satu juta remaja Amerika hamil, 4 dari 5 orang diantaranya tidak menikah (Santrock:).\

       2. Bunuh diri
     Di Amerika hal ini sudah sering atatu biasa terjadi. Setiap tahun, sekitar 25.000 orang menghilangkan nyawa mereka sendiri. Pada saat memasuki usia 15 tahun, kemungkinan untu mengambil keputusan untuk bunh diri mulai bertambah. Dan ternyata kematian akibat bunuh diri dikalangan remaja merupakan 12% penyebab kematian pada kelompok usia remaja dan dewasa muda (Brent, 1989). Fakta paling mengejutkan yaitu ternyata besar hasrat untuk mengakhiri hidup dengan cara bunuh diri pada laki-laki tiga kali lebih besar dibandingkan dengan perempuan. Tetapi pada faktanya perempuan lebih sering melakukan percobaan bunuh diri dibandingkan dnegan laki-laki.

 

Akibat Kenakalan Remaja

Akibat Kenakalan Remaja

kenakalan remaja

Dampak Kenakalan Remaja. Saat ini, hampir tidak terhitung berapa jumlah remaja yang melakukan hal-hal negatif. Bahkan, Dampak kenakalan remaja tersebut, banyak sekali kerugian yang terjadi, baik bagi remaja itu sendiri maupun orang-orang di sekitar mereka. Remaja adalah seorang anak yang bisa dibilang berada pada usia tanggung, mereka bukanlah anak kecil yang tidak mengerti apa-apa, tapi juga bukan orang dewasa yang bisa dengan mudah akan membedakan hal mana yang baik dan mana yang berakibat buruk. 
Sebelum mengetahui apa saja dampak kenakalan remaja, kita perlu tahu tentang kenakalan apa saja yang mungkin dilakukan oleh remaja. Sebuah kenakalan tentu tidak bisa didata satu persatu, namun bisa dirangkum seperti penjelasan di bawah ini.

Dampak kenakalan remaja:

  • Kenakalan dalam keluarga: Remaja yang labil umumnya rawan sekali melakukan hal-hal yang negatif, di sinilah peran orang tua. Orang tua harus mengontrol dan mengawasi putra-putri mereka dengan melarang hal-hal tertentu.Namun, bagi sebagian anak remaja, larangan-larangan tersebut malah dianggap hal yang buruk dan mengekang mereka. Akibatnya, mereka akan memberontak dengan banyak cara. Tidak menghormati, berbicara kasar pada orang tua, atau mengabaikan perkataan orang tua adalah contoh kenakalan remaja dalam keluarga.
  • Kenakalan dalam pergaulan: Dampak kenakalan remaja yang paling nampak adalah dalam hal pergaulan. Sampai saat ini, masih banyak para remaja yang terjebak dalam pergaulan yang tidak baik. Mulai dari pemakaian obat-obatan terlarang sampai seks bebas.Menyeret remaja pada sebuah pergaulan buruk memang relatif mudah, dimana remaja sangat mudah dipengaruhi oleh hal-hal negatif yang menawarkan kenyamanan semu. Akibat pergaulan bebas inilah remaja, bahkan keluarganya, harus menanggung beban yang cukup berat.
  • Kenakalan dalam pendidikan: Kenakalan dalam bidang pendidikan memang sudah umum terjadi, namun tidak semua remaja yang nakal dalam hal pendidikan akan menjadi sosok yang berkepribadian buruk, karena mereka masih cukup mudah untuk diarahkan pada hal yang benar. Kenakalan dalam hal pendidikan misalnya, membolos sekolah, tidak mau mendengarkan guru, tidur dalam kelas, dll.

Dampak Kenakalan Remaja

  • Dampak kenakalan remaja pasti akan berimbas pada remaja tersebut. Bila tidak segera ditangani, ia akan tumbuh menjadi sosok yang bekepribadian buruk.
  • Remaja yang melakukan kenakalan-kenakalan tertentu pastinya akan dihindari atau malah dikucilkan oleh banyak orang. Remaja tersebut hanya akan dianggap sebagai pengganggu dan orang yang tidak berguna.
  • Akibat dari dikucilkannya ia dari pergaulan sekitar, remaja tersebut bisa mengalami gangguan kejiwaan. Yang dimaksud gangguan kejiwaan bukan berarti gila, tapi ia akan merasa terkucilkan dalam hal sosialisai, merasa sangat sedih, atau malah akan membenci orang-orang sekitarnya.
  • Dampak kenakalan remaja yang terjadi, tak sedikit keluarga yang harus menanggung malu. Hal ini tentu sangat merugikan, dan biasanya anak remaja yang sudah terjebak kenakalan remaja tidak akan menyadari tentang beban keluarganya.
  • Masa depan yang suram dan tidak menentu bisa menunggu para remaja yang melakukan kenakalan. Bayangkan bila ada seorang remaja yang kemudian terpengaruh pergaulan bebas, hampir bisa dipastikan dia tidak akan memiliki masa depan cerah. Hidupnya akan hancur perlahan dan tidak sempat memperbaikinya.
  • Kriminalitas bisa menjadi salah satu dampak kenakalan. Remaja yang terjebak hal-hal negatif bukan tidak mungkin akan memiliki keberanian untuk melakukan tindak kriminal. Mencuri demi uang atau merampok untuk mendapatkan barang berharga.
  • Itulah beberapa dampak kenakalan remaja yang sudah semestinya harus dihindari. Peran orang tua atau keluarga, guru di sekolah, dan juga teman-teman, adalah orang-orang yang sangat berperan penting dalam kehidupan remaja. Keikutsertaan mereka dalam mengontrol seorang remaja, bisa berdampak cukup besar demi mencapai masa depan yang lebih cerah 

    sumber : http://belajarpsikologi.com/akibat-kenakalan-remaja/comment-page-4/#comment-3923


Thursday, December 5, 2013

Pentingnya Sarapan bagi Anak Sekolah

Pentingnya Sarapan bagi Anak Sekolah

sarapan pagi, anak sekolah, prestasi belajar
Pentingnya sarapan bagi anak sekolah – Pernahkah sobat mengetahui bahwa anak kita sering mengantuk ketika belajar di sekolah? Anak anak tidak bergairah dan bersemangat belajar? Mereka tidak konsentrasi dalam mengikuti pelajaran? Tentu saja pernah setelah mendapat informasi dari guru kelas maupun wali kelasnya.
Mengapa terjadi kasus seperti di atas?  Dari sekian banyak faktor, salah satunya disebabkan oleh kekurangan energi yang dialami oleh anak. Anak tidak sarapan pagi, atau sarapan  yang cukup untuk menghadapi aktivitas belajar hari itu.
 
Sebagai orang tua, sobat sudah mengetahui pentingnya sarapan pagi bagi anak sekolah. Hanya saja, kadang-kadang kita sering terlupa mengontrol apakah anak sudah sarapan pagi yang cukup untuk membangun energi tubuhnya menghadapi aktivitas belajar anak hari itu. Bukan mustahil pula sebagai orang tua kurang peduli dengan sarapan pagi anak. Kita sudah merasa cukup dengan sejumlah uang jajan yang diberikan kepada anak.
 
Sarapan merupakan makan pertama di pagi hari. Bagi anak sekolah, sarapan pagi bertujuan untuk memasok energi bagi tubuh anak sehingga anak sekolah tidak loyo mengikuti pelajaran hari itu. Semangat dan konsentrasi anak tetap terjaga. Jika demikian maka prestasi belajar anak akan optimal.
 
 
Oleh sebab itu, orang tua perlu mengontrol dan membimbing anak untuk membiasakan diri sarapan pagi sebelum berangkat sekolah. Membiasakan anak sekolah agar sarapan pagi sebenarnya tidak cukup dengan menyuruh saja. Metode instruksi tidak efektif untuk membiasakan anak sarapan pagi. Sering  anak sekolah berdalih untuk tidak sempat sarapan.
 
Salah satu metode yang cukup efektif membiasakan anak sekolah sarapan pagi adalah kebiasaan sarapan bareng anggota keluarga. Kebiasaan ini justru dapat menciptakan komunikasi antara orang tua dan anak.

sumber : http://uda-go-blog.blogspot.com/2013/06/pentingnya-sarapan-bagi-anak-sekolah.html#.UqER1eJ6LhQ

Memecahkan Masalah Tanpa masalah

Memecahkan Masalah Tanpa masalah

Memecahkan masalah tanpa masalah
Bisakah? Bisa! Bisa untuk disebutkan tetapi sulit untuk dikerjakan. Hidup ini sesungguhnya adalah rangkaian masalah. Manusia berada dalam lingkaran masalah itu. Oleh sebab itu manusia selalu belajar dari masalah dan berusaha mengatasinya berdasarkan pengalaman mengatasi masalah.
Hampir sepanjang hidupnya manusia berkecimpung dengan persoalan yang menyangkut hidupnya. Masalah yang dicimpungi itu bisa saja dengan diri sendiri maupun orang lain. Jika seseorang kesulitan BAB, itu termasuk masalah dengan diri sendiri. Kesalahpahaman dengan sahabat, rekan kerja dan lain sebagainya termasuk masalah dengan orang lain.
Masalah itu sebenarnya banyak sekali. Saking banyaknya tidak pernah ada orang mengidentifikasi seberapa banyak masalah yang dihadapi oleh seseorang dalam hidupnya. Orang hanya bisa mengatakan, banyak masalah… Berapa banyaknya? Pokoknya banyak…heheh.
Mungkin banyak ditemukan tips dan cara bagaimana memecahkan suatu masalah tertentu. Namun jarang ditemukan tips dan cara ampuh bagaimana mengatasi suatu masalah tanpa masalah. Mengapa? Dalam memecahkan suatu masalah mustahil tidak akan muncul masalah baru. Hal ini disebabkan oleh adanya pelibatan orang lain di luar pribadi kita yang belum tentu seide dan sepikiran dengan kita.
Berikut ini adalah beberapa hal yang berkaitan dengan suatu masalah:
1.Masalah sering berpengaruh terhadap hati dan pemikiran seseorang.
2.Penghayatan seseorang terhadap suatu masalah berbeda 
   satu sama lainnya.
3.Pengalaman seseorang menjadi sesuatu yang berharga 
   dalam menghadapi masalah.
4.Kesabaran sangat menentukan pemecahan masalah yang dihadapi.
5.Keimanan dan ketaqwaan menentukan berat atau ringannya
   masalah yang dihadapi.
6.Mengatasi masalah perlu melibatkan pihak lain seperti sahabat,
   orang tua dan orang-orang terdekat lainnya yang mungkin dipercaya.
7.Masalahnya sekarang, artikel tentang memecahkan masalah tanpa 
   masalah juga mengalami masalah. Kehabisan Ide! Hehehe…
Demikian sedikit pemikiran seputar masalah dalam hidup. Admin yakin, sahabat punya pemikiran tersendiri tentang mengatasi masalah tanpa masalah. Silahkan curahkan semuanya pada kotak komentar di bawah. Terima kasih.
 

Memotivasi Anak Belajar Dari Kesalahan

Memotivasi Anak Belajar Dari Kesalahan

Memotivasi anak belajar dari kesalahan - Manusia tak pernah luput dari kesalahan! Manusia merupakan makhluk yang tidak sempurna. Kalimat ini sudah familiar di pendengaran kita semua. Siapa saja dapat melakukan kesalahan dan itu adalah sesuatu hal yang wajar! Namun akibat dari kesalahan yang dilakukan selalu merugikan. Jarang orang merasa beruntung setelah melakukan kesalahan.

Bagaimana jika kesalahan yang sama dilakukan berulang-ulang? Hal ini tidak wajar! Berarti tak pernah belajar dari kesalahan yang telah dilakukan. Atau tidak peduli dengan kegagalan itu sendiri. Membiarkan diri terperosok pada lubang yang sama.
Disengaja atau tidak, kesalahan yang dilakukan pasti  menimbulkan kerugian pada diri individu. Misalnya, akibat kesalahan telah terjadi bencana alam, kecelakaan, dan kegagalan. Bagaimana supaya tidak terjadi lagi kesalahan? Tentu saja, harus belajar dari kesalahan itu. Mengapa terjadi kesalahan dan apa tindakan selanjutnya agar tidak terjadi lagi.
Orang tua perlu memotivasi anak agar dapat belajar dari kesalahannya. Bahwa kesalahan sekecil apapun dari sikap dan perilaku anak akan menerima resiko. Tangan menjinjing, bahu memikul. Begitu kata pepatah.
Bila seorang anak memecahkan kaca jendela sekolah, maka resikonya adalah mengganti benda yang dipecahkan. Bisa jadi anak diskor dari sekolah. Begitu pula jika prestasi belajar anak menurun karena sering bolos. Orang tua tidak perlu memarahi apalagi memaki-maki anak.
Sebaliknya orang tua merangkul dan mengajak anak berdiskusi untuk menyelesaikan permasalahan. Kemudian membawa anak untuk menyadari bahwa perbuatan keliru dan salah pasti beresiko. Memecahkan kaca milik orang lain, apa pun alasannya pasti akan mengganti milik orang tersebut. Jika sering bolos, pasti hasil belajar tidak bagus.
Untuk masa yang akan datang, pikirkan terlebih dulu segala sikap dan tindakan yang merugikan diri sendiri. Pandai-pandailah mengendalikan diri, melatih kesabaran menghadapi sesuatu. Nah, prestasi belajar yang ambruk tak lain disebabkan karena bolos belajar.
Cara orang tua memotivasi anak belajar dari kesalahan seperti di atas  cukup efektif untuk mendorong mereka belajar dari kesalahan. Jika mereka sudah berhasil mempelajari kesalahan dan sudah melakukan hal-hal positif, orang tua perlu melengkapinya dengan pujian dan penghargaan.
 

Tips Ampuh Menjadi Siswa Berprestasi

Tips Ampuh Menjadi Siswa Berprestasi

Tips ampuh menjadi siswa berprestasi di sekolah. Pembahasan ini sebenarnya kelanjutan dari tips meningkatkan prestasi belajar siswa yang sudah diposting beberapa waktu lalu.
Menjadi siswa berprestasi  yang bagus di sekolah, kadang-kadang menjadi  hal  yang rumit untuk diwujudkan bagi sebagian siswa. Namun sebagian lagi tidak ambil pusing dengan hal ini. Yang penting dapat menjalani proses pembelajaran sebagaimana mestinya setiap hari.
Apa tolok ukur siswa berprestasi? Tidak ada formulasi yang baku tentang hal ini. Siswa dikatakan berprestasi di sekolah apabila memperoleh hasil belajar yang sangat memuaskan. Benar! Tapi sangat memuaskan bagaimana? Ada juga yang mengelompokkan siswa berprestasi itu mampu meraih peringkat 10 besar. Ada pula yang mengatakan berprestasi itu sampai peringkat 3 besar. Atau bila siswa mampu meraih juara 1.  Semuanya benar!
Biasanya, siswa yang meraih juara 1 sampai 3 saat menerima rapor akan diumumkan oleh guru dan tampil ke depan siswa lainnya. Ada juga saat menerima rapor bersama orang tua sehingga siswa berprestasi tersebut tampil di podium bersama orang tuanya. Ini pastilah sangat membahagiakan siswa dan orang tuanya.
Bagi sobat yang pengin menjadi siswa berprestasi atau orang tua yang pengin anaknya berprestasi di sekolah, berikut ini dikemukakan tipsnya:
1.Membagi waktu dengan baik
Seorang siswa harus bisa membagi waktunya dengan baik agar berprestasi di sekolah. Bisa membagi waktu antara belajar, bermain, membantu orang tua, istirahat, termasuk main facebook-an, twiter-an atau blogging bagi yang sudah terlanjur hobi berselancar di dunia maya.
2.Meminati semua mata pelajaran
Kurang menyukai satu atau beberapa mata pelajaran di sekolah merupakan suatu kerugian bagi siswa yang ingin berprestasi. Mengapa? Otomatis nilai pada mata pelajaran ini juga kurang memuaskan sehingga mempengaruhi jumlah nilai semua mata pelajaran. Oleh sebab itu, sukai dan pelajari dengan sungguh-sungguh semua mata pelajaran. Jika ada mata pelajaran tertentu yang memang kurang disukai pelajari juga bagaimana meminati mata pelajaran tertentu.

3.Menunjukkan sikap dan prilaku baik
Guru lebih cenderung akan tertarik kepada siswa yang bersikap dan berprilaku baik. Lumrah, kalau guru akan membenarkan saja jawaban siswa yang sedikit salah dalam ulangan karena sikap dan prilaku siswa yang baik. Guru tidak akan ‘pelit’ memberi nilai. Sikap dan tingkah laku siswa termasuk unsur penilaian dalam pendidikan.

4.Rajin mengerjakan tugas atau pekerjaan rumah
Kesalahan yang umum dilakukan siswa adalah kemalasan mengerjakan tugas dan pekerjaan rumah yang diberikan oleh guru. Pertama sekali yang dilihat guru adalah,  apakah tugas yang diberikan ada dikerjakan siswa atau tidak. Guru belum melihat apakah yang dikerjakan siswa, benar atau salah. Nah, jika semuanya dikerjakan dan ternyata pekerjaan siswa benar, peluang emas bagi siswa untuk mendapat nilai yang memuaskan.
5.Aktif dalam kegiatan belajar
Guru akan menandai siswa yang aktif dalam belajar di ruang kelas. Keaktifan siswa dalam belajar ditandai dengan aktivitas siswa, baik bertanya maupun menjawab pertanyaan lisan yang diajukan oleh guru.

6.Memiliki motivasi yang tinggi
Untuk menjadi siswa berprestasi perlu adanya motivasi atau dorongan semangat yang tinggi untuk belajar dan meraih prestasi. Oleh sebab itu siswa perlu meningkatkan motivasi belajar sendiri. Faktanya, jarang ada siswa yang rendah motivasi belajarnya akan mendapat juara di kelas.
7.Menguasai cara belajar yang efektif
Siswa yang menguasai cara belajar efektif akan mudah untuk mencapai hasil belajar yang memuaskan. Termasuk di dalamnya bagaimana cara menghadapi ujian kenaikan kelas. Nilai ujian kenaikan kelas memiliki prosentase yang lebih besar dari unsur-unsur penilaian yang lain.
8.Taat beribadah
Siswa yang taat beribadah kepada Allah SWT akan selalu berdoa untuk kesuksesan dirinya dalam menggapai hasil belajar yang baik. Mereka memiliki keterkaitan spiritual yang kuat dengan Yang Maha Kuasa.
 

Wednesday, November 27, 2013

Macam - Macam Kenakalan Remaja

     Kenakalan remaja yang terjadi pada saat ini makin beragam bentuknya, hal ini bisa saja dipengaruhi oleh dunia luar atau yang lebih sering kita sebut pergaulan bebas. Dari kenalan siswa ini akan mengarah kepada kenakalan remaja yang melawan nilai-nilai yang berlaku yang disebabkan oleh belum adanya rasa kedewasaan. Dalam hal ini sebaiknya para siswa remaja harus bisa membedakan perbuatan yang termasuk dakam kenakalan remaja dan mengetahui dampak-dampak dari pergaulan yang kita lakukan.

Sifat-sifat kenalan siswa/remaja :
1. Tidak mempunyai pendirian
2. Frustasi
3. Emosi tidak stabil
4. Tidak dapat menguasai dorongan-sorongan nafsu
Misalnya :
1. Agresif
2. Selalu curiga
3. Cemburu
4. Selalu bertengkar
         Kenakalan remaja yang terjadi tentu ada sebab-sebabnya yang dipengaruhi oleh beberapa faktor-faktor, diantaranya :

Lingkungan keluarga :
1. Tidak ada keterbukaan sesama anggota keluarga
2. Tidak memperoleh kasih sayang dari orang tua
3. Kondisi ekonomi keluarga
Lingkungan sekolah :
1. Guru yang bersifat kurang adil kepada muridnya
2. Suasana sekolah yang menjadikan siswa senang membolos, malas belajar, dan melawan guru.
3. Kegiatan belajar yang tidak lancar

     Jika siswa/remaja telah masuk kenakalan remaja, maka mereka dapat saja melakukan sebuah penyimpanan atau yang disebut perilaku menyimpang. Dimana siswa yang berprilaku yang tidak sesuai / menyimpang dari nilai-nilai yang berlaku di masyarakat baik menurut nilai agama, sosial adat istiadat.

Akibat-akibat dari kenakalan siswa / remaja :
1). Merusak moral
2). Terjerumus dalam pergaulan bebas, misalnya
  • · Mengkonsumsi obat-obatan
  • · Perkelahian antar siswa
  • · Seks bebas
  • · dll
3). Membuat malu keluarga / mencemarkan nama baik orang tua
4). Merusak prestasi kita

        Dalam kehidupan sehari-hari, kenakalan remaja tentu saja terjadi pada masa pertumbuhan para siswa saat ini. Tetapi hal itu dapat dicegah, dengan cara pergaulannya yaitu :
1). Dalam sebuah lingkungan keluarga, perlu diadakan hubungan dan komunikasi yang 
      terbuka antar sesama anggota kaluarga.
2). Jika dikelas terjadi perilaku yang menyimpang, jangan bersikap marah terhadap siswa,
      tetapi hadapi dengan hati dan pikiran yang tenang dan jernih.
3). Memberikan bimbingan siswa dikelas secara keseluruhan, sehingga setiap siswa 
      memperoleh kepuasan dan kesuksesan serta tercipta suasana kelas yang harmonis
      tenang dan menyenangkan.
4). Memahami segala keterbatasan yang dimiliki siswa, sehingga sebagai guru hendaknya membantu
     dengan memberikan pertolongan kepada siswa yang mengalami kesulitan
     dalam mengembangkan diri.
5). Memahami segala kemampuan yang berbeda-beda.
6). Menjaga pergaulan kita dengan siapa saja dengan memperhatikan norma-norma yang berlaku.
7). Harus dapat membedakan mana hal yang buruk dan mana hal yang baik untuk pergaulan 
     kita agar tidak terjerus ke pergaulan bebas.
8). Perlunya / pentingnya peran orang tua dalam mendidik seorang anak.
9). Memberi pengalaman bagi siswa yang melakukan kegiatan-kegiatan yang positif.
10). Dll

       Dalam hal ini peran orang tua sangatnya penting untuk mencegah terjadinya kenakalan siswa karena disini orang tualah yang paling dekat dengan siswa/remaja, maka dari itu perlu adanya keterbukaan, saling mengisi, dan komunikasi antara orang tua dan siswa. Disini yang dimaksud keterbukaan, saling mengisi dan komunikasi adalah :

Keterbukaan, mencakup :
1). Saling jujur antara satu sama lain anggota keluarga
2). Tidak ada rasa ketertutupan
3). Selalu bicara apa adanya sesuai isi hati

Saling mengisi, mencakup :
1). Saling melengkapi kekurangan antara anggota keluarga
2). Saling mengisi kekosongan antar hati
3). Saling membantu jika ada masalah

Komunikasi, mencakup :
1). Saling bicara antar hati
2). Saling berbagi masalah
3). Selalu komunikasi ungkapkan isi hati

Cara Mengajar yang Efektif


Cara Mengajar yang Efektif
Ilustrasi
Ketika mengajar adalah hal yang kompleks dan karena murid-murid itu bervariasi, maka tidak ada cara tunggal untuk mengajar yang efektif untuk semua hal. Guru harus menguasai beragam perspektif dan strategi, dan harus bisa mengaplikasikannya secara fleksibel. Hal yang dibutuhkan dua hal utama yaitu: (1) Pengetahuan dan keahlian profesional; (2) komitmen dan motivasi.

PENGETAHUAN DAN KEAHLIAN PROFFESIONAL
Guru yang efektif menguasai materi pelajaran dan keahlian atau keterampilan mengajar yang baik. Guru yang efektif memiliki strategi pengejaran yang baik dab didukung oleh metode penetapan tujuan, perencanaan pengajaran, dan manajemen kelas. Mereka tahu bagaimana memotivasi, berkomunikasi, dan berhubungan secara efektif dengan murid-murid dari berbagai latar belakang kultural. Mereka juga mengetahui cara menggunakan teknologi yang tepat guna di dalam kelas. Berikut adalah masing-masing penjelasan dari beberapa kriteria di atas.
1. Penguasaan materi pelajaran
Guru yang efektif harus berpengetahuan, fleksibel, dan memahami materi. Tentu saja, pengetahuan subjek materi tidak hanya mencakup fakta, istilah, dan konsep umum. Ini juga membutuhkan pengetahuan dasar pengorganisasian materi, mengkaitkan berbagai gagasan, cara berpikir dan berargumentasi.
2. Strategi Pengajaran
Dalam hal ini bagaimana guru dapat membuat pengajaran materi dapat dikuasai oleh murid. Pada pendidikan model lama (tradisional) terlalu menekankan murid harus duduk diam, menjadi pendengar pasif dan menyuruh murid untuk menghafal informasi yang relevan dan tidak relevan. Kemudian berganti pada prinsip konstruktivisme, yaitu menekankan agar murid secara aktif menyusun dan membangun pengetahuan dan pemahamannya. Namun tidak semua ahli setuju dengan cara di atas, tetapi yang terpenting adalah walaupun anda menggunakan salah satu strategi di atas, masih banyak hal yang harus diketahui, hal-hal yang memberikan pengaruh dalam pengajaran yang efektif.
3. Penetapan tujuan dan keahlian perencanaan instruksional
Guru yang efektif tidak sekadar mengajar di kelas, entah dia menggunakan perspektif tradisional atau konstruktivisme di atas. Mereka juga harus menentukan tujuan pembelajaran dan menyusun rencana untuk mencapai tujuan itu.
4. Keahlian manajemen kelas
Aspek penting lainnya untuk menjadi guru yang efektif adalah mampu menjaga kelas tetap aktif bersama dan mengorientasikan kelas ke tugas-tugas. Guru yang efektif dapat mempertahankan lingkungan belajar yang kondusif.
5. Keahlian motivasional
Guru yang efektif mempunyai strategi yang baik untuk memotivasi murid agar mau belajar. Guru yang efektif tahu bahwa murid akan termotivasi saat mereka bisa memilih sesuatu yang sesuai dengan minatnya. Guru yang baik akan memberi kesempatan murid untuk berpikir kreatif dan mendalam untuk proyek mereka sendiri.
6. Keahlian komunikasi
Hal yang perlu diperlukan untuk mengajar adalah keahlian dalam berbicara, mendengar, mengatasi hambatan komunikasi verbal, memahami komunikasi non verbal dari murid, dan memapu memecahkan konflik secara konstruktif.
7. Bekerja secara efektif dengan murid dari berbagai kultur yang berbeda
Guru yang efektif harus mengetahui dan memahami anak dengan latar belakang kultural yang berbeda-beda, dan sensitif terhadap kebutuhan mereka. Mendorong murid satu dengan murid yang lain untuk berhubungan positif.
8. Keahlian teknologi
Guru yang efektif tahu cara menggunakan komputer dan cara mengajar murid menggunakan komputer untuk menulis dan berkreasi. Teknologi itu sendiri tidak selalu meningkatkan kemampuan belajar murid perlu kesesuaian antara kurikulum dengan teknologi yang sesuai dalam pengajaran.
KOMITMEN DAN MOTIVASI
Menjadi guru yang efektif juga membutuhkan komitmen dan motivasi. Aspek ini mencakup sikap yang baik dan perhatian kepada murid. Komitmen sangat dibutuhkan dalam pengajaran, bagaimana guru memberikan tenaga dan pikiran untuk memberikan pengajaran yang dapat diterima oleh murid dengan baik. Guru yang efektif juga mempunyai kepercayaan diri terhadap kemampuan mereka dan tidak akan membiarkan emosi negatif melunturkan motivasi mereka.
Daftar Pustaka
Santrock, John, W. 2007. Psikologi Pendidikan. Jakarta: Kencan Prenada Media Group
http://www.psikologizone.com/cara-mengajar-yang-efektif/06511700

Trik Mengajar Supaya Siswa Tertarik dan Termotivasi

Trik Mengajar Supaya Siswa Tertarik dan Termotivasi

Saya sebenarnya bukanlah seorang guru, namun hanya seorang yang suka berbagi ilmu meskipun cuma sedikit. Semenjak SMA, saya sudah terbiasa berbagi ilmu. Pertama kali saya berbagi ilmu dalam “jumlah besar” adalah ketika saya bertukar ilmu dengan seorang guru SMA saya.
Jadi guru jangan naif, kadang murid lebih pintar.
Saya sebut bertukar ilmu karena beliau mengajarkan saya pelajaran fisika (karena beliau bukan guru kelas saya) dan saya mengajarkan beliau menggunakan komputer. Pada masa itu komputer masih merupakan barang langka sehingga hanya sedikit orang yang bisa dan kebetulan saya adalah orang yang beruntung itu. Dari pengalaman berkali-kali menjadi tentor dalam beberapa pelatihan blog, Linux, marketing, MLM dan juga duduk sebagai siswa, saya kemudian menetapkan standar bagaimana cara untuk mengajar itu.

Mengajar itu horisontal, bukan vertikal

Sifat mengajar yang horisontal berarti kita sebagai tentor menempatkan diri sama tinggi dengan siswa kita. Kita berbicara sebagai orang yang lebih dahulu tahu, bukan lebih pintar. Kita mentransfer ilmu, bukan memberi ilmu. Saya seringnya mengatakan seperti ini setelah perkenalan:
“Saya berdiri di depan anda sekalian bukan karena saya lebih pintar dari anda, namun hanya karena saya mengenal ilmu ini lebih dahulu daripada anda. Mungkin suatu saat diantara anda sekalian ada yang lebih mengerti ilmu ini daripada saya. Saya berkeyakinan kuat akan hal ini.”
Pernyataan diatas sudah memberikan dorongan kepada siswa untuk lebih santai dan lebih menikmati kebersamaannya dengan anda. Jika kelas sudah santai dan dinikmati, maka pelajaran mudah diberikan. Dalam memberikan pelajaran, anggaplah kita sedang bercerita tentang pengalaman sehingga ilmu apapun itu tidak terkesan menyeramkan.

Mengajar itu memberikan motivasi

Murid yang termotivasi, tidak mencontek.
Murid yang termotivasi, tidak mencontek.
Dalam mengajar, pastikan selalu memberikan motivasi kepada murid-murid kita. Motivasi bisa dilakukan di seluruh waktu, namun ada waktu-waktu yang terbaik.

Motivasi di pertemuan pertama

Untuk ini saya menjiplak guru SD saya dulu, namanya pak Jamari, beliau adalah guru IPA kelas 2. Saat pertemuan pertama, beliau membawa sebuah gambar Thomas Alva Edison dan memajangnya di depan kelas lalu bercerita tentang Thomas Alva Edison. Ketika saya naik kelas, saya melihat guru saya itu melakukan hal yang serupa pada adik kelas saya. Ya, setidaknya bagi anak-anak kelas 2 SD, kisah Edison itu inspiratif. :)

Motivasi pada tengah pelajaran

Saya terbiasa memberikan hadiah bagi mereka yang dapat mengerjakan sesuatu yang saya tugaskan di tengah-tengah pelajaran. Ini saya tiru dari seorang guru biologi SMP saya. Reward itu bisa berupa makanan atau minuman dan terkadang alat tulis. Reward ini bisa menyesuaikan dengan kebutuhan. Mungkin untuk guru sekolah bisa dengan menjanjikan kebebasan pekerjaan rumah bagi yang dapat menjawab pertanyaan. Yah, hal-hal semacam itulah, tergantung bagaimana kreatifitas dan keadaan.

Motivasi di akhir pelajaran

Untuk ini saya mencontoh dari tayangan di TV yang menampilkan kilasan sebelum jeda iklan. Saya terbiasa memberikan preview pelajaran selanjutnya pada bagian yang menarik sebelum kelas berakhir. Hal ini membuat siswa kita menjadi semangat untuk mengikuti kelas kita selanjutnya. Penasaran adalah senjata guru untuk membuat kelasnya menjadi diminati oleh murid-muridnya. :)
Dan tak lupa, sebagai seorang guru kita haruslah menjadi seseorang yang dapat menyakinkan murid kita bahwa mereka hebat. Kita harus bisa menanamkan kepada mereka bahwa mereka pasti bisa melakukan apa saja asalkan berusaha dengan baik. Hal ini dapat kita tempuh dengan menghindari kalimat-kalimat yang menurunkan keyakinan terhadap diri mereka sendiri. Saya sendiri berpendapat bahwa tidak ada orang bodoh, hanya saja memiliki pemahaman yang berbeda.

Mengajar itu memberikan contoh

Seorang guru SMA saya pernah mengatakan bahwa “ajarkan apa yang kamu bisa, bukan apa yang kamu tahu”. Maksudnya adalah apa yang kita ajarkan sebaiknya adalah sesuatu yang kita mengerti dan bisa kita lakukan. Lakukan dengan memberikan contoh. Ketika memberikan pelatihan, saya lebih banyak memberikan contoh dan mempraktekkan langsung supaya siswa mengerti dan tidak hanya mengimajinasikan dalam pikiran saja. Oleh karena itu sebagai guru kita harus paham konsep dari suatu hal yang diajarkan. Pemahaman konsep akan membuat kita mudah memberikan contoh apa saja dan memecahkan problematika yang mungkin dihadapi oleh para siswa.
Hal-hal diatas hanyalah sekelumit dari bagaimana mengajar yang baik. Selain dari pengalaman mengajar, pengalaman saya duduk sebagai siswa dari kecil hingga dewasa juga mempengaruhi kesimpulan tentang bagaimana seharusnya seorang guru itu mengajar. Mungkin ada yang mau menambahkan?

Monday, November 25, 2013

Guru Inspiratif dan Kreatif Bisa Menjadi Teladan Siswa

Guru Inspiratif dan Kreatif Bisa Menjadi Teladan Siswa

     Jakarta --- Guru sebagai tenaga pendidik profesional tidak cukup hanya menguasai ilmu yang diajarkannya, melainkan juga dituntut memahami kondisi peserta didik yang dihadapinya. Karena itulah diperlukan guru yang inspiratif dan kreatif, yang mampu mendidik, memberi teladan yang baik, dan bisa memahami kondisi kejiwaan peserta didik. Guru yg kreatif dan inspiratif harus mampu memberikan layanan pendidikan kepada peserta didik dengan berbagai latar belakang yang berbeda (fisik, intelektual, sosial-emosional).
      Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pendidikan dan Kebudayaan, dan Penjaminan Mutu Pendidikan (BPSDMPK-PMP) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) Syawal Gultom mengatakan, guru inspiratif dan kreatif semakin dibutuhkan dalam implementasi Kurikulum 2013.
"Guru yang kreatif dan inspiratif harus mampu memberikan layanan pendidikan kepada peserta didik dengan berbagai latar belakang yang berbeda, seperti fisik, intelektual, sosial-emosional. Ketika kita memperhatikan peserta didik di kelas dengan latar belakang usia hampir sama, akan memperlihatkan penampilan, kemampuan, temperamen, minat yang beragam terhadap suatu pelajaran," ujarnya dalam konferensi pers Peringatan Hari Guru Nasional 2013, di Hotel Mega Anggrek, Jakarta, Jumat (22/11).
       Guru kreatif dan inspiratif juga dinilai sebagai guru yang profesional, di mana selalu menegakkan kode etik di dalam melaksanakan tugasnya sebagai seorang guru yang profesional.
"Guru senantiasa memiliki kejujuran profesional dalam menerapkan kurikulum sesuai dengan kebutuhan anak didik masing-masing dan guru mengadakan komunikasi terutama dalam memperoleh informasi tentang anak didik, tetapi menghindarkan diri dari segala bentuk penyalahgunaan, serta guru menciptakan suasana kehidupan sekolah dan memelihara hubungan dengan orangtua murid sebaik-baiknya bagi kepentingan anak didik," ucapnya.
       Guru inspiratif dan kreatif merupakan kunci sukses dalam implementasi Kurikulum 2013, yang selalu mengedepankan potensi, perkembangan, kebutuhan, dan kepentingan peserta didik dan lingkungannya. Diharapkan, dengan kehadiran guru inspiratif dan kreatif dalam Kurikulum 2013, dapat menghasilkan peserta didik yang memiliki kemampuan berkomunikasi, berpikir kritis dan kreatif, dan mampu menghadapi tantangan global. (DM)

Tuesday, November 19, 2013

13 Cara Menjadi Guru yang Baik


13 Cara Menjadi Guru yang Baik

     Siapkan minimal dua penugasan atau strategi saat mengajar, dijamin siswa akan sibuk sepanjang pelajaran. Cara yang ada di foto ini adalah siswa yang sdah selesai langsung ditunggu oleh tugas yang lain untuk dikerjakan.

       Menjadi guru yang baik saat mengajar bukan soal sifat si guru tersebut tapi soal kemampuan mengatur irama pembelajaran. Guru yang sifatnya baik pun akan cepat marah jika muridnya sering berlaku tidak tertib. Salah satu hal yang membuat siswa tertib adalah kesibukan yang bermakna. Membuat siswa bisa sibuk namun tetap bermakna memang tantangan semua guru. Ada guru yang senang memberi soal sulit pada siswanya dengan harapan siswanya sibuk dan waktu mengajar dia tidak dipusingkan oleh masalah perilaku.

      Padahal sebaliknya hal tadi hanya terjadi pada siswa yang perilakunya memang sudah baik, sementara anak-anak yang lain akan cepat bosan dan justru membuat ulah karena merasa gurunya memberi pekerjaan sulit tanpa jalan keluar. Karena pekerjaannya sulit membuat anak -anak yang memang sudah bermasalah pada perilaku akan timbul lagi keinginannya untuk membuat keributan dan ujung-ujungnya guru akan merasa gagal dalam mengajar siswanya di hari itu.

    Ada beberapa cara untuk membuat jam pelajaran anda berlalu tanpa terasa baik kita sebagai guru maupun siswa sebagai penikmat cara mengajar dan perencanaan mengajar kita.

1.   Rencanakan dalam seminggu perencanaan mengajar anda
2.   Selalu update rencana pengajaran anda setelah dan sebelum mengajar
3.   Tidur yang cukup setiap hari. Hal ini penting agar suasana hati kita terjaga dan tidak mudah emosi
4.   Rencanakan pengajaran anda dalam team, jika tidak mungkin konsultasikan formal dan informal RPP
      anda pada rekan sesama guru.
5.   Masuk kelas lebih awal bisa 3 menit atau 5 menit lebih awal.
6.   Pikirkan 3 strategi atau rencana dalam mengajar, dengan demikian anak yang cepat selesai tetap punya
      kegiatan
7.   Saat mengajar sempatkan memotivasi siswa. memotivasi itu bukan memuji karena memotivasi anda perlu
      mendalami karakter anak yang anda ingin motivasi
8.   Tebarkan senyum pada seisi kelas
9.   Ucapkan salam dengan semangat saat akan mengajar
10. Berikan soal yang menantang dan bukan sekedar sulit
11. Minta siswa untuk ajarkan siswa lainnya jika ia sudah selesai
12. Kurangi gaya  ‘one man show’ saat mengajar, kurangi semangat untuk menceramahi siswa.
13. Biarkan siswa juga berbicara di kelas, berbagi mengenai strateginya dalam mengerjakan soal yang anda
      berikan.