Showing posts with label SUPERVISI. Show all posts
Showing posts with label SUPERVISI. Show all posts

Thursday, June 5, 2014

SUPERVISI MASA DEPAN

SUPERVISI MASA DEPAN

Robert H. Anderson secara optimis menyebutkan bahwa substansi kemajuan telah dibuat oleh lembaga ilmiah dan profesional, ini sebagai sebuah usaha baru yang masif untuk membawa bidang supervisi ke arah yang lebih tinggi. Dia percaya bahwa standar baru diperlukan dalam lembaga sertifikasi negara dan diantara komunitas perguruan tinggi dan universitas yang bertanggungjawab dalam mempersiapkan supervisor. Ketatnya tuntutan intelektual dan lebih sensitifnya terhadap kebutuhan praktis dalam pengawasan dan praktek kelas, akan membutuhkan standar baru dalam pengembangan keterampilan tingkat tinggi dalam observasi pengajaran, pengumpulan data dan analisis, konferensi, konseling, perencanaan, dan evaluasi. Juga perlu adanya keterampilan klinis yang akan dilengkapi dengan tuntutan upaya untuk mengembangkan kemampuan manusia yang diperlukan untuk melatih suksesnya kepemimpinan, dan dengan lebih tradisional, serta fokus pada masalah-masalah perencanaan program pendidikan dan pengembangan kurikulum dan filsafat. Dapat diakui bahwa département pendidikan negara dan universitas memiliki kepekaan terhadap tuntutan profesional dari masyarakat yang mereka layani, Anderson menyarankan bahwa pengawas dan dewan pendidikan harus memimpin usaha ini dengan mengadopsi kriteria pemilihan untuk supervisor yang melebihi batas minimal dan persyaratan standar negara. Anderson juga menyarankan lebih jauh bahwa masa depan supervisi harus terletak ditangan komunitas supervisi itu sendiri dan kesuksesan dimasa datang akan memerlukan sikap yang lebih agresif dari komunitas tersebut dalam mempertahankan dan memelihara supervisi tersebut.

Makalah Tentang Strategi Pelaksanaan Supervisi Pendidikan

Makalah Tentang Strategi Pelaksanaan Supervisi Pendidikan Pada Lembaga Pendidikan Formal

A.    PENDAHULUAN
Semua negara dalam meningkatkan mutu sumber daya manusia berusaha keras agar dapat menerapkan standar dalam menyelenggarakan pendidikannya. Tiap negara berlomba menetapkan kriteria minimal pada berbagai komponen strategis agar memenuhi standar mutu minimal  sebagai modal dasar untuk mengembangkan persaingan. Keberhasilannya diukur dengan indikator-indikator yang paling strategis sehingga menggambarkan hasil nyata sebagai komponen utama penentu daya saing.
Pendidikan yang bermutu tinggi atau berkualitas tinggi merupakan harapan setiap warga negara termasuk di Indonesia. Sebab pendidikan yang bermutu akan menghasilkan sumber daya manusia yang bermutu pula. Dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, bab II pasal 3, menyatakan bahwa “Pendidikan nasional bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.”
Pendidikan merupakan faktor utama dalam pembentukkan pribadi manusia. Pendidikan sangat berperan dalam membentuk baik atau buruknya pribadi manusia menurut ukuran normatif. Menyadari akan hal tersebut, pemerintah sangat serius menangani bidang pendidikan, sebab dengan sistem pendidikan yang baik diharapkan muncul generasi penerus bangsa yang berkualitas dan mampu menyesuaikan diri untuk hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.
Pendidikan adalah salah satu unsur paling penting dalam kehidupan manusia. Pendidikan merupakan proses pendewasaan diri manusia itu sendiri serta selain itu pendidikan juga merupakan proses pembentukan pribadi dan karakter manusia. Kemudian, pada satu fokus yang lebih khusus yaitu pendidikan formal, manusia diberikan dasar-dasar pengetahuan sebagai pegangan dalam menjalani hidup dan menghadapi kenyataan hidup dimana didalam pendidikan formal dalam hal ini adalah sekolah menjadi suatu jenjang yang mungkin memang sudah selayaknya dilalui dalam proses kehidupan manusia. Kemudian dalam pendidikan sekolah itu, manusia juga selain melatih kedewasaan juga mengasah intelektualitasnya dan kompetensinya dalam tanggung jawab dan kesadaran.
Seperti telah dituliskan sebelumnya, pada dunia sekolah, manusia dilatih intelektualitasnya dengan pengetahuan dan ilmu-ilmu yang diajarkan dalam proses pendidikannya pada jenjang-jenjang yang telah ada dan diatur. Untuk itu, pada pendidikan sekolah sangat diperlukan adanya perencanaan dalam pendidikan demi tercapainya tujuan pendidikan tersebut. Perencanaan yang dimaksud adalah kurikulum pendidikan atau sekolah yang di dalamnya terdapat standar-standar pembelajaran dan pengembangan intelektualitas manusia.
Setiap pelaksanaan program pendidikan memerlukan adanya pengawasan atau supervisi. Pengawasan bertanggung jawab tentang keefektifan program itu. Oleh karena itu, supervisi haruslah meneliti ada atau tidaknya kondisi-kondisi yang akan memungkinkan tercapainya tujuan-tujuan pendidikan. Dalam makalah ini akan membahas masalah tentang strategi pelaksanaan supervisi pendidikan pada lembaga pendidikan formal.

B.    PERMASALAHAN
1.    Bagaimana strategi pelaksanaan supervisi pendidikan pada lembaga pendidikan formal ?
2.    Apa saja pendekatan yang digunakan dalam pelaksanaan supervisi pendidikan?

C.    KAJIAN PUSTAKA
Istilah supervisi baru muncul kurang lebih tiga dasawarsa terakhir ini (Suharsimi Arikunto, 2004). Kegiatan serupa yang dahulu banyak dilakukan adalah Inspeksi, pemeriksaan, pengawasan atau penilikan. Dalam konteks sekolah sebagai sebuah organisasi pendidikan, supervisi merupaka bagian dari proses administrasi dan manajemen. Kegiaan supervisi melengkapi fungsi-fungsi administrasi yang ada di sekolah sebagai fungsi terakhir, yaitu penilaian terhadap semua kegiatan dalam mencapai tujuan. Dengan supervisi, akan memberikan inspirasi untuk bersama-sama menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan dengan jumlah lebih banyak, waktu lebih cepat, cara lebih mudah, dan hasil yang lebih baik daripada jika dikerjakan sendiri. Supervisi mempunyai peran mengoptimalkan tanggung jawab dari semua program. Supervisi bersangkut paut dengan semua upaya penelitian yang tertuju pada semua aspek yang merupakan factor penentu keberhasilan. Dengan mengetahui kondisi aspek-aspek tersebut secara rinci dan akurat, dapat diketahui dengan tepat pula apa yang diperlukan untuk meningkatkan kualitas organisasi yang bersangkutan.
Good Carter memberi pengertian supervisi adalah usaha dari petugas-petugas sekolah dalam memimpin guru-guru dan petugas lainnya, dalam memperbaiki pengajaran, termasuk menstimulir, menyeleksi pertumbuhan jabatan dan perkembangan guru-guru dan merevisi tujuan-tujuan pendidikan, bahan-bahan pengajaran, dan metode mengajar dan evaluasi pengajaran.
Boardman et. Menyebutkan Supervisi adalah salah satu usaha menstimulir, mengkoordinir dan membimbing secarr kontinyu pertumbuhan guru-guru di sekolah baik secara individual maupun secara kolektif, agar lebih mengerti dan lebih efektif dalam mewujudkan seluruh fungsi pengajaran dengan demikian mereka dapat menstmulir dan membimbing pertumbuan tiap-tiap murid secara kontinyu, serta mampu dan lebih cakap berpartsipasi dlm masyarakat demokrasi modern.
Wilem Mantja (2007) mengatakan bahwa, supervisi diartikan sebagai kegiatan  supervisor (jabatan resmi) yang dilakukan untuk perbaikan proses belajar mengajar (PBM). Ada dua tujuan (tujuan ganda) yang harus diwujudkan oleh supervisi, yaitu; perbaikan (guru murid) dan peningkatan mutu pendidikan. Menurut Kimball Wiles (1967)Konsep supervisi modern dirumuskan sebagai berikut : “Supervision is assistance in the development of a better teaching learning situation”. Ross L (1980), mendefinisikan bahwa supervisi adalah pelayanan kapada guru-guru yang bertujuan menghasilkan perbaikan pengajaran, pembelajaran dan kurikulum.
Menurut Purwanto (1987), supervisi ialah suatu aktivitas pembinaan yang direncanakan untuk membantu para guru dan pegawai sekolah dalam melakukan pekerjaan secara efektif.
Dari uraian definisi supervisi diatas, maka dapat dipahami para pakar menguraikan defenisi supervisi dari  tinjauan yg berbeda-beda.God Carter melihatnya sebagai usaha memimpin guru-guru dalam jabatan mengajar, Boardman. Melihat supervisi sebagai lebih sanggup berpartisipasi dlm masyarakat modern. Willem Mantja memandang supervisi sebagai kegiatan untuk perbaikan (guru murid) dan peningkatan mutu pendidikan. Kimball Wiles beranggapan bahwa faktor manusia yg memiliki kecakapan (skill) sangat penting untuk menciptakan suasana belajar mengajar yg lebih baik. Ross L memandang supervise sebagai pelayanan kapada guru-guru yang bertujuan menghasilkan perbaikan. Sedangkan Purwanto (1987) memandangkan sebagai pembinaan untuk membantu para guru dan pegawai sekolah dalam melakukan pekerjaan secara efektif.
Secara umum strategi mengandung pergerakan suatu garis-garis besar haluan atau cara untuk bertindak dalam usaha mencapai sasaran yang telah ditentukan sebelumnya. Berdasarkan pengertian supervisi pendidikan yang telah dibahas sebelumnya, dapat disimpulkan bahwa strategi supervisi pendidikan adalah cara-cara atau metode khusus untuk memberikan bantuan kepada guru dalam memperbaiki situasi belajar mengajar.
Pendidikan formal adalah kegiatan yang sistematis, berstruktur, bertingkat, berjenjang, dimulai dari sekolah dasar sampai dengan perguruan tinggi dan yang setaraf denganya; termasuk ke dalamnya ialah kegiatan studi yang berorientasi akademis dan umum, program spesialisasi, dan latihan profesional, yang dilaksanakan dalam waktu yang terus menerus. Selain pendidikan formal di Indonesia juga dikenal dengan adanya pendidikan non formal dan informal. 
Pendidikan non formal  ialah setiap kegiatan terorganisasi dan sistematis, di luar sistem persekolahan yang mapan, dilakukan secara mandiri atau merupakan bagian penting dari kegiatan yang lebih luas, yang sengaja dilakukan untuk melayani peserta didik tertentu didalam mencapai tujuan belajarnya. Sedangkan Pendidikan informal adalah proses yang berlagsung sepanjang usia sehingga setiap orang memperoleh nilai, sikap, ketrampilan dan pengetahuan yang bersumber dari pengalaman hidup sehari-hari, pengaruh lingkungan termasuk didalamnya adalah pengaruh kehidupan keluarga, hubungan dengan tetanga, lingkungan pekerjaan, dan permainan, pasar, perpustakaan, dan media masa.

D.    PEMBAHASAN
1.    Strategi Pelaksanaan Supervisi Pendidikan pada Lembaga Pendidikan Formal
Secara umum strategi mengandung pergerakan suatu garis-garis besar haluan atau cara untuk bertindak dalam usaha mencapai sasaran yang telah di tentukan sebelumnya.Berdasarkan pengertian supervisi pendidikan yang telah dibahas sebelumnya,dapat disimpulkan bahwa strategi supervisi pendidikan adalah cara-cara atau metode khusus untuk memberikan bantuan kpda guru dlam memperbaiki situasi belajar mengajar.
Adapun strategi dasar yang dapat dilakukan supervisor dalam supervisi pendidikan meliputi hal-hal berikut:
1)    Meneliti dan mengamati pelaksanaan tugas kepsek atau guru
2)    Menentukan apakah pelaksanaan tugas suatu sekolah baik atau buru
3)    Memperbaiki hal-hal yang dianggap kurang sesuai dg harapan supervisor
4)     Memberikan bantuan kpd kepsek atau guru utk mengadakan perbaikan pelaksanaan tugasnya
5)    Mengadakan kerja sama dengan kepala sekolah dan guru untuk menciptakan situasi belajar mengajar yang lebih baik.
Teknik supervisi merupakan cara-cara yang ditempuh dalam mencapai tujuan tertentu, baik yang berhubungan dengan penyelesaian masalah guru- guru dalam mengajar, masalah kepala sekolah dalam mengembangkan kelembagaan serta masalah-masalah lain yang berhubungan serta berorientasi pada peningkatan mutu pendidikan
Teknik supervisi menurut Sahetian (2000) ada 2 macam yatu: 1. Supervisi yang bersifat individual, 2. Supervisi yang bersifat kelompok. Pembagian supervisi ini  didasarkan pada aspek pelaksanaannya yaitu secara sendiri, dan secara kelompok.
Teknik supervisi individual meliputi : supervisi kunjungan kelas dan supervisi obeservasi kelas.
1.    Kunjungan kelas
Yang dimaksud kunjungan kelas yaitu Kepala sekolah atau supervisor datang ke kelas untuk melihat cara guru mengajar di kelas. Dengan ini supervisi dapat melihat keadaan yang sebnarnya, tanpa dibuat-buat. Hal seperti ini dapat membiasakan guru agar selalu mempersiapkan diri sebaik-baiknya.
2.    Observasi kelas
Observasi kelas Melalui perkunjungan kelas, supervisor dapat mengobservasi situasi belajar-mengajar yang sebenarnya. Ada dua macam observasi kelas.
•    Observasi Observasi langsung (direct observation)
Dengan menggunakan alat observasi, supervisor mencatat absen yang dilihat pada saat guru Sedang mengajar.
•    Observasi Tidak Langsung Orang yang diobservasi dibatasi oleh ruang kaca di mana murid-murid tidak mengetahui (biasanya dilakukan dalam laboratorium untuk pengajaran mikro).
Sedangkan supervisi secara kelompok meliputi :
1.    Mengadakan pertemuan atau rapat (meeting)
Fungsi komunikasi manajemen sekolah dapa terlaksana dengan baik apabila masing-masing sekolah mempunyai hak yang sama untuk mengemukakan pendapat, dan segala informasi yang ada dapat segera dengan cepat menyebar. Seorang kepala sekolah yang memenuhi fungsinya dengan baik, yaitu fungsi pengarahan (directing), pengkoordinasian(coordinating), dan pengkomunikasian (communicating), apabila dia tidak segan-segan menyelenggarakan pertemuan bersama dalam rapat dengan guru dan staf  TU secara rutin.
Dalam  pelaksanaan rapat, masalah waktu, dan tempat mempunyai pengaruh besar terhadap sukses atau tidaknya pertemuan tersebut. Kepala sekolah atau supervisor sebagai penginisiatif  rapat harus memperhitungkan berbagai segi didalam penetapan waktu dan tempat sehingga guru-guru dapat hair tanpa banyak merugikan penyelenggaraan pendidikan pengajaran umumnya, atau kepentingan pribadi guru yang bersangkutan, dan seupaya rapat membawa hasil yang diharapkan.
2.    Mengadakan diskusi kelompok (group discussion )
Diskusi adalah pertukaran pendapat tentang sesuatu masalah untuk dipecahkan bersama. Diskusi merupkan cara utuk mengembangkan ketrampilan anggota-anggotanya dalam mengatasi kesulitan-kesulitan dengan jalan bertukar pikiran.
Diskusi kelompok dilakukan sebagai metode untuk mengumpulkan data, namun juga dapat digunakan untuk mmpertemukan pendapat antar staf pimpinan saja. Diskusi kelompok dapat diselenggarakan dengan mengundang atau mengumpulkan guru-guru bidang studi sesuaidengan keperluannya.

2.    Pendekatan yang Digunakan dalam Pelaksanaan Supervisi Pendidikan
Dalam menjalankan tugasnya sebagai supervisor, antara supervisor yang satu dengan yang lainnya mungkin saja menggunakan metode pendekatan yang berbeda. Thomas JJ Serjiovanni mengatakan bahwa pelaksanaan supervisi di sekolah sekarang didasarkan pada satu atau merupakan kombinasi dari 3 teori kepengawasan pada umumnya, yakni: Tradisional scientific management,human relasion,& neo scientific management”.

a.    Tradisional scientific management.
Pendekatan ini melukiskan pandangan hasil supervise pendidikan yang otokratis. Guru-guru dianggap sbg alat management & dipakai untuk melaksanakan segala kewajiban yang telah di tentukan sesuai dengan keinginan-keinginan managemen. Pengawasan, efisiensi, & pertanggung jawaban Guru-guru sangat diperlukan.Situasi hubungan antara guru dan supervisor mirip sekali dg hubungan antara majikan dengan pembantunya, Sehingga system pengawasan terasa ketat dan kaku. Tugas supervisor sebagai inspektur yang fungsinya memberi arah, mengecek cara-cara guru mengajar, menilai dengan hasil belajar sesuai dengan informasi yang di sampaikan serba instruksi. Meskipun pendekatan ini sudah jarang digunakan, namun sisa-sisa pengaruh dari teori ini masih dapat ditemukan di sekolah-sekolah tertentu.

b.    Human relasions
Supervisi yang dipengaruhi oleh pandangan ini mendasarkan pada proses administrasi & management secara demokrasi. Guru-guru dipandang sebagai “manusia yang bulat” dan memiliki hak-hak pribadi bukan sekedar paket energi, ketrampilan dan sikap-sikap yang dibutuhkan oleh apa administrator maupun supervisor. Supervisor bekerja untuk menciptakan suatu kepuasan pada guru-guru dengan jalan menunjukkan perhatian pada mereka sebagai manusia. Pendekatan demikian didasari oleh pandangan bahwa sifat yang mempunyai kepuasan akan berusaha bekerja keras dan mudah diajak bekerja sama, dipimpin dan dikontrol. Parsitipasi dijadikan metode yang penting, dengan tujuan membuat guru agar mempunyai perasaan bahwa mereka penting dan berguna bagi sekolah. “Perasaan-perasaan pribadi” & “hubungan-hubungan yang menyenangkan” merupakan kata-kata semboyan dari pendekatan ini.

c.    Neoscientific management
Pendekatan ini lebih condong pada perhatian management ilmiah (pendekatan pertama) terhadap kontrol, pertangung jawaban, & efisiensi. Kata-kata semboyan gerakan pendekatan baru ini adalah “kompetensi guru”, “sasaran-sasaran kegiatan” dan “analisa cost benefit”. Dimensi tugas, perhatian terhadap jabatan, dan sasaran yang telah ditetapkan lebih ditekankan pada pendekatan ini, meskipun sering mengorbankan dimensi manusia. Pengawasan yang rasional, non pribadi dan teknis diterapkan sebagai pengganti sistem yang dijalankan pada pendekatan pertama. Asumsi dasarnya : apabila standar-standar kegiatan, sasaran-sasaran dan kompetensi tertentu dapat diidentifikasi, maka pekerjaan para guru akan dapat dikontrol dengan berpedoman pada standar-standar tersebut untuk meyakinkan bahwa proses pengajaran yang dilaksanakan telah berjalan dengan baik.

d.    Human resource
Pendekatan ini hampir sama dengan pendekatan human relation, yaitu sama-sama memperhatikan kepuasan pribadi guru dalam proses supervisi. Hanya saja cara memandangnya yang berbeda secara kritis. Pendekatan human relation memandang “kepuasan” sebagai alat untuk menciptakan suatu kegiatan sekolah yang lancar dan efektif. Supervisor boleh jadi melibatkan guru dalam proses pengambilan keputusan,karena hal itu dianggap akan meningkatkan kepuasan guru. Guru-guru yang memperoleh kepuasan diduga secara otomatis akan mudah diajak bekerja sama, dipimpin dan karenanya efektivitas akan meningkat. Rasionalnya adalah guru-guru ingin merasa penting dan terlibat. Perasaan ini akhirnya akan melahirkan sikap baik guru terhadap sekolah, sehingga mereka mudah diatur.
Sedangkan human resource memandang kepuasan sebagai tujuan yang diinginkan ke arah mana guru-guru akan bekerja. Kepuasan akan diperoleh setelah segala aktifitas telah dikerjakan dengan berhasil. Dan keberhasilan dalam menyelesaikan pekerjaan ini merupakn komponen kunci daripada efektifitas sekolah. Supervisor melibatkan guru-guru dalam proses pengambilan keputusan didasarkan pada potensi yang mereka miliki dianggap mampu meningkatkan efektifias sekolah. Suatu keputusan yang baik dan komitmen guru yang tinggi terhadap keputusan yang diambil itu akan menjamin meningkatnya efektivitas kegiatan sekolah. Keberhasilan inilah yang nantinya akan meningkatkan kepuasan pada guru.

E.    REKOMENDASI
Secara sederhana supervisi ialah pengawasan yang dilakukan untuk mencari kelemahan atau kekurangan yang ada kemudian diberikan solusi pemecahan atas kekurangan dan kelemahan yang ada. Supervisi pendidikan ini penting adanya terutama bagi peningkatan kualitas dan perbaikan terhadap berlangsungnya pendidikan.
Di dalam melakukan supervisi, seorang supervisor harus menguasai strategi, teknik dan pendekatan-pendekatan yang dibutuhkan agar kegiatan supervisi tersebut berjalan dengan baik dan tepat. Tanpa menguasai strategi-strategi seorang supervisor akan kesulitan dalam melakukan kegiatan pengawasan atau supervisi. Jika sudah demikian, maka supervisi tidak akan mampu menyelesaikan permasalahan, kekurangan dan kelemahan pada suatu lembaga pendidikan formal utamanya.
Di lembaga pendidikan formal yang sejatinya mempunyai sistem yang lebih rapi, mempunyai kurikulum, standar-standar tertentu dan lain sebagainya pastilah seorang supervisor dalam melakukan supervisi wajib menggunakan strategi, teknik dan pendekatan-pendekatan tertentu agar lembaga pendidikan formal tersebut dapat memiliki kualitas atau mutu yang tinggi dan sesuai dengan 8 standar pendidikan yang telah dijelaskan pada pertemuan sebelimnya. Jadi intinya supervisor harus menguasai strategi dalam melakukan supervisi, terutama pada lembaga pendidikan formal.

F.    SIMPULAN
1.    Adapun strategi dasar yang dapat dilakukan supervisor dalam supervisi pendidikan meliputi hal-hal berikut:
    Meneliti dan mengamati pelaksanaan tugas kepsek atau guru
    Menentukan apakah pelaksanaan tugas suatu sekolah baik atau buru
    Memperbaiki hal-hal yang dianggap kurang sesuai dg harapan supervisor
     Memberikan bantuan kpd kepsek atau guru utk mengadakan perbaikan pelaksanaan tugasnya
    Mengadakan kerja sama dengan kepala sekolah dan guru untuk menciptakan situasi belajar mengajar yang lebih baik.
Teknik supervisi individual meliputi : supervisi kunjungan kelas dan supervisi obeservasi kelas. Sedangkan supervisi secara kelompok meliputi: Mengadakan pertemuan atau rapat (meeting) dan Mengadakan diskusi kelompok (group discussion ).
2.    Dalam menjalankan tugasnya sebagai supervisor, antara supervisor yang satu dengan yang lainnya mungkin saja menggunakan metode pendekatan yang berbeda. Thomas JJ Serjiovanni mengatakan bahwa pelaksanaan supervisi di sekolah sekarang didasarkan pada satu atau merupakan kombinasi dari 3 teori kepengawasan pada umumnya, yakni: Tradisional scientific management,human relasion,& neo scientific management”.

G.    DAFTAR PUSTAKA
Kisbiyanto, 2008, Supervisi Pendidikan, Kudus: Stain Kudus
Luk-luk Nur Mufidah, 2009, Supervisi Pendidikan, Yogyakarta: Teras
Piet A. Sahertian, 2008, Konsep Dasar dan Teknik Supervisi Pendidikan, Jakarta: Rieneka Cipta
http://maswanispdyahoocoid.blogspot.com/2007/05/pentingnya-supervisi-pendidikan.html
http://andinurdiansah.blogspot.com/2011/03/strategi-supervisi-pendidikan.html
http://www.infodiknas.com/fkip-unisma-pendidikan-formal-pendidikan-non-formal-dan-pendidikan-informal/

Karakteristik, kompetensi dan ciri-ciri supervisor yang baik

Karakteristik, kompetensi dan ciri-ciri supervisor yang baik 
Supervisi adalah suatu usaha atau bantuan yang diberikan kepada guru dalam meningkatkan situasi belajar-mengajar menuju kearah yang lebih baik. Dan orang yang ahli dalam bidang supervisi disebut Supervisor. Seorang supervisor yang baik harus memiliki beberapa karakteristik dan kompetensi yang baik. Pada artikel ini akan dijelaskan mengenai hal itu. Semoga artikel ini bermanfaat untuk teman-teman yang sedang menyusun tugas ataupun skripsi. Semoga bermanfaat..

Karakteristik, Kompetensi dan Ciri-Ciri Supervisor yang Baik
Karakteristik Supervisor yang Baik
Seorang supervisor yang baik harus mengetahui 4 K dari karakteristik supervisor ideal, yaitu :
  1. Karakter, Supervisor haruslah seorang yang jujur, artinya mengakui semua perbuatannya: benar atau salah. Supervisor juga haruslah berintegritas, artinya melaksanakan apa yang diucapkannya, menjadi teladan, walk the talk – tidak ‘asbun’.
  2. Koperatif, Supervisor harus bisa bekerja sama dengan bawahan, klien, supplier, sesama supervisor, dan atau manajernya. Dia tidak dapat bekerja soliter lagi.
  3. Kompeten, Supervisor haruslah orang yang kompeten di bidangnya. Bersyukurlah bila Anda memulai dari bawah, karena mungkin saja Anda dipromosikan karena Anda dinilai kompeten di bidang tersebut. Jika Anda fresh graduate dan mendapat rejeki nomplok sebagai supervisor, cobalah Anda mendalami bidang yang Anda geluti. Jangan malu untuk bertanya pada bawahan Anda.  Lebih mudah bagi Anda untuk memberikan pengarahan, misalnya, jika Anda tahu persis apa yang terjadi di gemba.
  4. Komunikatif.  Karena anda berhubungan dengan manusia, bukan robot atau mesin, Anda harus berbicara dalam ‘bahasa manusia’.  Jadilah pendengar yang baik, berikan respon yang tepat – bukan menggurui – bukan menasehati apalagi mengecam. Latihlah diri Anda untuk mengucapkan artikulasi dengan jelas, bangunlah kepercayaan diri untuk berani berbicara di depan umum. Latihan presentasi, memberikan briefing, melakukan coaching, memberikan feedback, membantu problem solving, memimpin meeting, meningkatkan negotiating skills, melakukan komunikasi telpon, surat menyurat, menulis laporan, membuat pengumuman, membuat grafik, dll sesuai dengan bidang pekerjaan Anda.
Kompetensi Supervisor yang Baik
A. Kompetensi Kepribadian
  1. Menyadari akan tugas dan tanggungjawabnya sebagai pengawas satuan pendidikan yang professional
  2. Kreatif dalam bekerja dan memecahkan masalah baik yang berkaitan dengan kehidupan pribadinya maupun tugas-tugas profesinya
  3. Memiliki rasa ingin tahu akan hal-hal baru tentang pendidikan dan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni yang menunjang profesinya.
B. Kompetensi Manajerial
  1. Menguasai metode, teknik dan prinsip-prinsip supervisi dalam rangka meningkatkan mutu pendidikan.
  2. Menyusun program kepengawasan berdasarkan visi-misi-tujuan dan program sekolah-sekolah binaannya.
  3. Menyusun metode kerja dan berbagai instrumen yang diperlukan untuk melaksanakan tugas pokok dan fungsi pengawasan.
  4. Membina kepala sekolah dalam mengelola satuan pendidikan berdasarkan manajemen peningkatan mutu berbasis sekolah (MPMBS).
  5. Membina kepala sekolah dalam melaksanakan administrasi satuan pendidikan meliputi administrasi kesiswaan, kurikulum dan pembelajaran, pendidik dan tenaga kependidikan, sarana dan prasarana, pembiayaan, keuangan,lingkungan sekolah dan peran serta masyarakat.
  6. Membantu kepala sekolah dalam menyusun indikator keberhasilan mutu pendidikan di sekolah.
  7. Membina staf sekolah dalam melaksanakan tugas pokok dan tanggung jawabnya.
  8. Memotivasi pengembangan karir kepala sekolah, guru dan tenaga kependidikan lainnya sesuai dengan peraturan dan ketentuan yang berlaku.
  9. Menyusun laporan hasil-hasil pengawasan pada sekolah-sekolah binaannnya dan menindak lanjutinya untuk perbaikan mutu pendidikan dan program pengawasan berikutnya.
  10. Mendorong guru dan kepala sekolah untuk menemukan kelebihan dan kekurangan dalam melaksanakan tugas pokoknya.
  11. Menjelaskan berbagai inovasi dan kebijakan pendidikan kepada guru dan kepala sekolah.
  12. Memantau pelaksanaan inovasi dan kebijakan pendidikan pada sekolah-sekolah binaannya.
C. Kompetensi Akademik
  1. Memahami konsep, prinsip, teori dasar, karakteristik, dan kecenderungan perkembangan bidang ilmu yang menjadi isi tiap bidang pengembangan/mata pelajaran SD/mata pelajaran sekolah menengah yang termasuk dalam rumpunnya.
  2. Memahami konsep, prinsip, teori/teknologi, karakteristik, dan kecenderungan perkembangan proses pembelajaran tiap bidang pengembangan/mata pelajaran SD/mata pelajaran sekolah menengah yang termasuk dalam rumpunnya.
  3. Membimbing guru dalam menentukan tujuan pendidikan yang sesuai, berdasarkan standar kompetensi dan kompetensi dasar tiap bidang pengembangan/mata pelajaran SD/mata pelajaran sekolah menengah yang termasuk dalam rumpunnya.
  4. Membimbing guru dalam menyusun silabus tiap bidang pengembangan/ mata pelajaran SD/mata pelajaran sekolah menengah yang termasuk rumpunnya berlandaskan standar isi, standar kompetensi dan kompetensi dasar, dan prinsip-prinsip pengembangan KTSP.
  5. Menggunakan berbagai pendekatan/metode/ teknik dalam memecahkan masalah pendidikan dan pembelajaran tiap bidang pengembangan/mata pelajaran SD/mata pelajaran sekolah menengah yang termasuk dalam rumpunnya.
  6. Membimbing guru dalam memilih dan menggunakan startegi/metode/teknik pembelajaran yang dapat mengembangkan berbagai potensi peserta didik melalui bidang pengembangan/mata pelajaran SD/mata pelajaran sekolah menengah yang termasuk dalam rumpunnya.
  7. Membimbing guru dalam menyusun rencana pembelajaran (RPP) untuk tiap bidang pengembangan/mata pelajaran SD/mata pelajaran sekolah menengah yang termasuk dalam rumpunnya.
  8. Membimbing guru dalam memilih dan menggunakan media pendidikan yang sesuai untuk menyajikan isi tiap bidang pengembangan/mata pelajaran SD/mata pelajaran sekolah menengah yang termasuk dalam rumpunnya.
  9. Memotivasi guru untuk memanfaatkan teknologi informasi untuk pembelajaran tiap bidang pengembangan/mata pelajaran SD/mata pelajaran sekolah menengah yang termasuk dalam rumpunnya.
  10. Membimbing guru dalam melaksanakan strategi/metode/teknik pembelajaran yang telah direncanakan untuk tiap bidang pengembangan/ mata pelajaran SD/mata pelajaran sekolah menengah yang termasuk dalam rumpunnya.
  11. Membimbing guru dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran (di kelas, laboratorium, dan/atau di lapangan) untuk mengembangkan potensi peserta didik pada tiap bidang pengembangan/mata pelajaran SD/mata pelajaran sekolah menengah yang termasuk dalam rumpunnya.
  12. Membimbing guru dalam merefleksi hasil-hasil yang dicapai, kekuatan, kelemahan, dan hambatan yang dialami dalam pembelajaran yang telah dilaksanakan.
  13. Membantu guru dalam mengelola, merawat, mengembangkan, dan memanfaatkan fasilitas pembelajaran yang berkaitan dengan mata pelajaran SD/mata pelajaran sekolah menengah yang termasuk dalam rumpunnya.
D. Kompetensi Evaluasi Pendidikan
  1. Membimbing guru dalam menentukan aspek-aspek yang penting dinilai untuk tiap bidang pengembangan/mata pelajaran yang termasuk dalam rumpunnya.
  2. Membimbing guru dalam menentukan kriteria dan indikator keberhasilan pembelajaran tiap bidang pengembangan/mata pelajaran yang termasuk dalam rumpunnya.
  3. Menyusun kriteria dan indikator keberhasilan pendidikan pada satuan pendidikan yang menjadi binaannya
  4. Menilai kemampuan guru dalam melaksanakan pembelajaran pada tiap bidang pengembangan/mata pelajaran yang termasuk dalam rumpunnya.
  5. Menilai kemampuan kepala sekolah dalam mengelola satuan pendidikan.
  6. Menilai kinerja staf sekolah dalam melaksanakan tugas pokoknya.
  7. Menilai kinerja sekolah dan menindaklanjuti hasilnya untuk keperluan akreditasi sekolah.
  8. Mengolah dan menganalisis data hasil penilaian kinerja sekolah, kinerja kepala sekolah, kinerja guru, dan kinerja staf sekolah.
  9. Memantau pelaksanaan kurikulum, pembelajaran, bimbingan dan hasil belajar siswa serta menganalisisnya untuk perbaikan mutu pendidikan pada sekolah binaannya
  10. Membina guru dalam memanfaatkan hasil penilaian untuk kepentingan pendidikan dan pembelajaran tiap bidang pengembangan/mata yang termasuk dalam rumpunnya
  11. Memberikan saran kepada kepala sekolah, guru, dan seluruh staf sekolah dalam meningkatkan kinerjanya berdasarkan hasil penilaian.
E. Kompetensi Penelitian dan Pengembangan
  1. Menguasai berbagai pendekatan, jenis, dan metode penelitian dalam pendidikan.
  2. Menentukan masalah kepengawasan yang penting untuk diteliti baik untuk keperluan tugas pengawasan, pemecahan masalah pendidikan, dan pengembangan profesi.
  3. Menyusun proposal penelitian pendidikan baik proposal penelitian kualitatif maupun proposal penelitian kuantitatif.
  4. Melaksanakan penelitian pendidikan baik untuk keperluan pemecahan masalah pendidikan, perumusan kebijakan pendidikan maupun untuk pengembangan profesi.
  5. Mengolah dan menganalisis data penelitian pendidikan baik data kualitatif maupun data kuantitatif.
  6. Memberikan bimbingan kepada guru tentang penelitian tindakan kelas, baik perencanaan maupun pelaksanaannya.
  7. Menyusun karya tulis ilmiah (KTI) dalam bidang pendidikan/kepengawasan.
  8. Mendiseminasikan hasil-hasil penelitian pada forum kegiatan ilmiah baik lisan maupun tulisan.
  9. Membina guru dalam menyusun karya tulis ilmiah dalam bidang pendidikan dan pembelajaran.
  10. Membuat artikel ilmiah untuk dimuat pada jurnal.
  11. Menulis buku/modul untuk bahan pengawasan.
  12. Menyusun pedoman/panduan yang diperlukan untuk melaksanakan tugas pengawasan.
F. Kompetensi Sosial
  1. Menyadari akan pentingnya bekerja sama dengan berbagai pihak dalam rangka meningkatkan kualitas diri dan profesinya.
  2. Menangani berbagai kasus yang terjadi di sekolah atau di masyarakat .
  3. Aktif dalam kegiatan organisasi profesi seperti APSI, PGRI, ISPI dan organisasi kemasyarakatan lainnya.
Ciri-ciri Supervisor yang Baik
Seorang supervisor hendaknya memiliki cirri-ciri pribadi sebagai guru yang baik, memiliki pembawaan kecerdasan yang tinggi, pandangan yang luas mengenai proses pendidikan dalam masyarakat, kepribadian yang menyenangkan dan kecakapan melaksanakan human relation yang baik.
Supervisor yang baik selalu merasa dibimbing oleh penemuan-penemuan yang telah didapat dari hasil-hasil penelitian pendidikan dan mempunyai kesempatan untuk menyatakan pendapat-pendapat itu di dalam diskusi-diskusi kelompok dan pertemuan-pertemuan perseorangan. Dia hendaknya merupakan pemimpin sumber dalam segala bidang yang mengenai supervisi sekolah dan perbaikan pengajaran.Mungkin ia adalah seorang spesialis dalam bidang tertentu, tetapi disamping itu ia pun harus dapat merupakan seorang generalis di dalam approach-nya terhadap keseluruhan program sekolah
Thomkins dan Backley menyatakan kualitas penting bagi seorang supervisor sebagai berikut : “Memiliki intuisi yang baik, kerendahan hati, keramah-tamahan, ketekunan, sifat humor, kesabaran dan sebagainya adalah ciri-ciri yang penting karena supervisi menyangkut hubungan antara orang-orang.”
Dengan singkat, disamping harus memilki ilmu administrai dan memahami fungsi-fungsi administrasi dengan sebaik-sebaiknya, untuk dapat menjalankan fungsinya dengan baik seorang supervisor harus memiliki ciri-ciri dan sifat-sifat sebagai berikut :
  1. Berpengetahuan luas tentang seluk-beluk semua pekerjaan yang ada di bawah pengawasannya.
  2. Menguasai dan memahami benar-benar rencana dan program yang telah digariskan yang akan dicapai oleh setiap lembaga atau bagian.
  3. Berwibawa dan memiliki kecakapan praktis tentang teknik-teknik kepengawasan, terutama human relation.
  4. Memiilki sifat-sifat jujur, tegas, konsekuen, ramah dan rendah hati.
  5. Berkemauan keras, rajin bekerja demi tercapainya tujuan atau program yang telah digariskan/disusun.
DAFTAR PUSTAKA
Ngalim Purwanto, Drs.,M., Administrasi dan Supervisi Pendidikan,  PT Remaja Rosdakarya, Bandung, 2008
Barus, Albert., Drs., M.Pd., Profesi Kependidikan, Hand Out Mata Kuliah
gurukreatif.wordpress.com

Ciri Seorang Supervisor, Tugas dan Fungsi Supervisi

Ciri Seorang Supervisor, Tugas dan Fungsi Supervisi


Ciri – ciri seorang supervisor yang baik

1. Memiliki ciri – ciri pribadi sebagai yang baik
2. Memiliki pembawaan kecerdasan yang tinggi
3. Pandangan yang luas mengenai proses pendidikan
4. Berkepribadian yang menyenangkan
5. Melaksanakan human relation yang baik
6. Cinta pada anak – anak
7. Harus cakap memimpin kelompok menurut prinsip – prinsip demokratis
8. Memiliki keteguhan hati
9. Merupakan pemimpin sumber dalam segala bidang yang mengenai supervisi sekolah
10. Berwibawa, tanggung jawab, pekerja keras, ramah tapi tegas, serta jujur


Fungsi – fungsi supervisi

1. Membantu guru – guru dalam memahami keadaan dan kebutuhan siswanya
2. Membantu guru agar memiliki kemampuan dalam mengembangkan kecakapan pribadi
3. Membentuk moral kelompok yang kuat dan mempersatukan guru dalam satu tim yang efektif
4. Bekerja sama secara akrab
5. Bersahabat serta saling menghargai satu sama lain
6. Meningkatkan mutu pembelajaran
7. Kegiatan memimpin dan membimbing
8. Sebagai pemicu atau penggerak terjadinya perubahan pada unsur yang terkait pada pengajaran

Tugas – tugas supervisi

1. Menghadiri pertemuan – pertemuan organisasi profesional
2. Mendiskusikan metode – metode mengajar
3. Mengadakan rapat – rapat kelompok
4. Membimbing guru – guru dalam menyusun dan mengembangkan sumber – sumber pengajaran
5. Memberikan saran – saran bagaimana melaksanakan pengajaran
6. Mengorganisasi dan bekerja sama dengan kelompok guru – guru
7. Menulis dan mengembangkan materi – materi kurikulum
8. Membimbing pelaksanaan program – program testing
9. Menulis artikel – artikel tentang pendidikan
10. Menilai dan Menyeleksi buku – buku untuk perpustakaan guru.
11. Bekerja sama dengan konsultan – konsultan kurikulum
12. Melakukan classroom visitation
13. Menyiapkan laporan – laporan tertulis
14. Bertindak sebagai konsultan di dalam rapat
15. Berwawancara dengan guru – guru dan pegawai untuk mengetahi pandangan dan harapan
      mereka.

Friday, December 6, 2013

Paradigma Supervisi Penidikan

Supervisi Pendidikan dengan Paradigma Baru
 
Pengertian supervisi pendidikan pada umumnya mengacu kepada usaha perbaikan situasi belajar mengajar, yang dilakukan dengan memberikan bimbingan, membantu (helping) dan memberi bantuan (to help) kepada guru sebagai upaya memperbaiki proses pembelajaran ke arah yang lebih baik.
Supervisi yang dilakukan oleh seorang supervisor dengan cara memberi bantuan kepada guru, agar guru dapat mengembangkan kemampuan profesionalismenya, hal ini dimaksudkan bila guru telah meningkat kemampuan profesionalismenya, maka akan terjadi peningkatan situasi belajar mengajar yang lebih baik.
Menurut Umiarso (2010), dalam menjalankan tugasnya seorang supervisor harus mampu membina peningkatan mutu akademis yang berhubungan dengan usaha-usaha menciptkan kondisi belajar yang lebih baik, yang berupa aspek akademis dan bukan masalah fisik material semata. Supervisi dilakukan bukan dalam rangka mencari-cari kealahan pada pelaksanaan kinerja komponen sekolah, melainkan untuk membantu komponen sekolah tersebut dalam rangka meningkatkan kualitas pembelajaran dan untuk mengatasi berbagai hambatan yang ditemukan dalam proses belajar mengajar. Kegiatan supervisi dilakukan dalam dua kegiatan yaitu supervisi akademis  dan supervisi administrasi. Supervisi akademis merupakan suatu bentuk kegiatan layanan profesional yang dikembangkan untuk meningkatkan profesionalisme komponen sekolah, khususnya guru dalam menjalankan tugas utamanya, yaitu sebagai pendidik dan pengajar yang merupakan ujung tombak dalam menjalankan roda pendidikan. Sedangkan supervisi administrasi menekankan pemgamatan pada apek-aspek administrasi yang berfungsi sebagai pendukung terlaksananya pembelajaran. Meski demikian, keduanya tetap dapat dilakukan bersam-sama untuk menjamin proses pembelajaran berjalan efektif dan efisien.
Menurut Piet A Suhertian (2008), dalam perkembangannya ke depan ia melihat objek dari supervisi di masa yang akan datang mencakup empat hal yaitu (1) pembinaan kurikulum; (2) perbaikan proses pembelajaran; (3) pengembangan staff, dan (4) pemeliharaan dan perawatan moral serta semangat kerja guru-guru.
Dalam Pedoman Pengembangan Administrasi dan Supervisi Pendidikan (2003) dalam Umiarso (2011: 281-282), menyatakan bahwa supervisi untuk masa datang harus diarahkan pada hal-hal berikut. Pertama,  membangkitkan dan merangsang semangat guru dan pegawai sekolah dalam menjalankan tugasnya masing-masing dengan baik. Kedua, mengembangkan dan mencari metode-metode belajar mengajar yang baru dalam proses pembelajaran yang lebih baik dan lebih sesuai. Ketiga, mengembangkan suasana yang baik antara guru dan siswa, guru dan sesama guru, guru dan kepala sekolah, serta seluruh staff seklah yang berada dalam lingkungan sekolah yang bersangkutan. Keempat, berusaha meningkatkan kualitas wawasan dan pengetahuan guru serta pegawai sekolah dengan cara mengadakan pembinaan secara berkala, baik dalam bentuk workshop, seminar, in service training, up grading, dan lain sebagainya.
Menurut Mukhtar (2010: 46-47), ada dua hal yang mendasari pentingnya supervisi dalam proses pendidikan, yaitu :
1)   Perkembangan kurikulum merupakan gejala kemajuan pendidikan.
Perkembangan tersebut serng menimbulkan perubahan struktur maupun fungsi kurikulum. Pelaksanaan kurikulum tersebut memerlukan penyesuaian yang terus menerus dengan keadaan nyata dilapangan. Hal tersebut berarti guru-guru harus senantiasa berusaha mengembangkan kreativitasnya agar daya upaya pendidikan mendasarkan kurikulum dapat terlaksana secara baik.
2)   Pengembangan personel, pegawai atau karyawan senantiasa merupakan upaya yang terus menerus dalam suatu organisasi.
Pengembangan personel dapat dilaksanakan secara formal dan informal. Pengembangan formal menjadi tanggungjawab lembaga yang bersangkutan melalui penataran, tugas belajar, loka karya dan sejenisnya. Sedangkan pengembangan informal merupakan tanggunjawab pegawai sendiri dan dilaksanakan secara mandiri atau bersama dengan rekan kerjanya, melalui berbagai kegiatan seperti kegiatan ilmiah, percobaan suatu metode mengajar, dan lain sebagainya.
Pelaksanaan kegiatan supervisi pendidikan dilingkungan sekolah dilakukan oleh kepala sekolah dan pengawas sekolah kepada guru tidak bersifat temporer (tentatif) atau sesuai dengan tingkat etensitas kebutuhan dari pelaku pendidikan, namun bersifat kontinyu, integral, holistik dengan dasar “bantuan” yang diberikan kepada guru selaku pioner dalam pendidikan. Oleh karena itu, kepala sekolah harus secara gigih mengupayakan pola managemen pembelajaran efektif dengan meningkatkan kualitas belajar peserta didik melalui program supervisi pendidikan sebagai implementasi bentuk profesionalisme kepala sekolah sebagai supervisor. 
Nilai suatu supervisi terletak pada perkembangan dan perbaikan situasi beajar mengajar yang direfleksikan pada perkembangan para peserta didik. Perbaikan situasi belajar mengajar berhubungan erat dengan pengelolaan kelas, ialah suatu usaha untuk (1) menciptakan, memperbaiki, dan memelihara organisasi kelas agar para siswa dapat mengembangkan minat, bakat dan kemampuannya secara maksimal; (2) menyeleksi fasilitas belajar yang tepat dengan problem dan situasi kelas; (3) mengkoordinasi kemauan siswa mencapai tujuan pendidikan, dan (4) meningkatkan moral kelas (Mukhtar, 2010: 43).

METODE DAN TEKNIK SUPERVISI PENDIDIKAN

METODE DAN TEKNIK SUPERVISI PENDIDIKAN

  1. Metode dan Teknik Supervisi
Tugas pengawas satuan pendidiakan ketika melaksanakan tugas pengawasaannya, haruslah memahami metode dan teknik supervisi akademik agar kegiatan supervise dapat dilaksanakan dengan baik dan hasil pembinaanya mencapai tujuan pembinaan. Ada beberapa metode dan teknik supervise yang dapat dilakukan pengawas. Metode-metode tersebut dibedakan antara yang bersifat individual dan kelompok.
  1. Teknik Supervisi Individual
Teknik supervisi individual adalah pelaksanaan supervisi yang diberikan kepada guru tertentu yang mempunyai masalah khusus dan bersifat perorangan. Supervisor atau pengawas hany berhadapan seorang guru yang dipandang memiliki persoalan tertentu. Teknik-teknik supervisi yang dikelompokkan sebagai teknik individual meliputi: kunjungan kelas, observasi kelas, pertemuan individual, kunjungan antar kelas, dan menilai diri sendiri.
  1. Kunjungan Kelas
Kunjungan kelas adalah teknik pembinaan guru oleh kepala sekolah, pengawas, dan Pembina lainnya dalam rangka mengamati pelaksanaan proses belajar mengajar, sehingga memperoleh data yang diperlukan dalam rangka pembinaan guru. Tujuan kunjungan kelas ini adalah untuk menolong guru dalam mengatasi kesulitan atau masalah guru di dalam kelas. Melalui kunjungan kelas, pengawas akan membantu permasalahan yang dialaminya.kunjungan kelas dapat dilakukan dengan pemberitahuan atau tanpa oemberitahuan terlebih dahulu, dan bias juga atas dasar undangan dari guru itu sendiri.
Dalam melaksan akan kunjungan kelas, terdapat empat tahap, yaitu
1)   Tahap persiapan, Pada tahap ini, pengawas merencanakan waktu, sasaran,
       dan cara mengobservasi selama kunjungan kelas.
2)   Tahap pengamatan, yaitu mengamati jalannya proses pembelajaran berlangsung.
3)   Tahap akhir kunjungan, pada tahap akhir ini pengawas bersama guru
       mengadakan perjanjian untuk membicarakan hasil-hasil observasi,
       setelah itu dilakukan tindak lanjut.

Ada beberapa criteria kunjungan kelas yang baik, yaitu;
1)  Memiliki tujuan-tujuan tertentu.
2)  Mengungkapkan aspek-aspek yang dapat memperbaiki kemampuan guru.
3)  Menggunakan instrument observasi tertentu untuk mendapatkan daya yang obyektif.
4)  Terjadi interaksi antara Pembina dan yang dibina sehingga menimbulkan sikap
      saling pengertian.
5)  Pelaksanaan kunjungan kelas tidak menganggu proses belajar mengajar.
6)  Pelaksanaannya diikuti dengan program tindak lanjut.
  1. Observasi Kelas
Observasi kelas secara sederhana dapat diartikan melihat dan memperhatikan secara teliti terhadap gejala yang tampak. Observasi kelas adalah teknik observasi yang dilakukan oleh supervisor terhadap proses pembelajaran yang sedang berlangsung. Tujuannya adalah untuk memperoleh data seobyektif mungkin mengenai aspek-aspek dalam situasi belajar mengajar, kesulitan-kesulitan yang dihadapi oleh guru dalam usaha memperbaiki proses belajar mengajar. Secara umum yang diamati selama proses pembelajaran adalah:
1)      Usaha-usaha dan aktivitas guru-siswa dalam proses pembelajaran.
2)      Cara penggunaan media pengajaran.
3)      Reaksi mental para siswa dalam proses belajar mengajar.
4)      Keadaan media pengajaran yang dipakai dari segi materialnya.

Dalam pelaksanaan observasi kelas dilakukan beberapa tahap, yaitu:
1)      Persiapan observasi kelas.
2)      Pelaksanaan observasi kelas.
3)      Penutupan pelaksanaan observasi kelas.
4)      Penilaian hasil observasi.
5)      Tindak lanjut.
Ketika supervisor/pengawas melaksanakan observasi kelas, sebaiknya menggunakan instrument observasi tertentu, antara lain evaluative check-list, activity check-list.
  1. Pertemuan Individual
Pertemuan individual adalah satu pertemuan, percakapan, dialog, dan tukar pikiran antara Pembina atau supervisor guru, guru dengan guru, mengenai usaha meningkatkan kemampuan professional guru. Tujuannya adalah: (1) memberikan kemungkinan pertumbuhan jabatan guru melalui pemecahan masalah yang dihadapi; (2) mengembangkan hal mengajar yang lebih baik; (3) memperbaiki segala kelemahan dan kekurangan pada diri sendiri; dan (4) menghilangkan atau menghindari segala prasangka yang bukan-bukan.
  1. Kunjungan Antar Kelas
Kunjungan antarkelas dapat juga digolongkan sebagai teknik supervisi secara perorangan. Kegiatan ini dilakukan guru yang satu berkunjung ke kelas yang lain dalam lingkungan sekolah itu sendiri. Melalui kunjungan antarkelas ini diharapkan guru akan memperoleh pengalaman baru dari teman sejawatnya mengenai pelaksanaan proses pembelajaran, pengelolaan kelas, dan sebagainya. Agar kunjungan antarkelas ini dapat berhasil dengan baik dan bermanfaat, maka harus ada beberapa hal yang diperhatikan antara lain:

1)  Guru-guru yang akan dikunjungi harus diseleksi dengan sebaik-baiknya.
     Diupayakan agar mencari guru yang berpengalaman sehingga mampu memberikan
     pengalaman baru bagi guru-guru yang akan mengunjungi.
2)  Tentukan guru-guru yang akan mengunjungi.
3)  Sediakan segala fasilitas yang diperlukan dalam kunjungan kelas.
4)  Supervisor/pengawas hendaknya mengikuti acara ini denbgan cermat. Amatilah
     apa-apa yang ditampilakn secara cermat, dan mencatatnya pada format tertentu.
5)  Adakan tindak lanjut setelah kunjungan antarkelas selesai. Missal, dengan
     percakapan pribadi, penegasan, dan pemberian tugas-tugas tertentu.
6)  Segera aplikasikan ke sekolah atau ke kelas guru bersangkutan, yaitu dengan
      menyesuaikan pada situasi dan kondisi yang dihadapi.
7) Adakan perjanjian-perjanjian untuk mengadakan kunjungan antar kelas berikutnya.
  1. Menilai diri Sendiri
Menilai diri sendiri merupakan satu teknik individual dalam supervisi pendidikan. Penilaian diri sendiri memberikan informasi secara obyektif kepada guru tentang peranannya di kelas dan memberikan kesempatan kepada guru mempelajari metode pengajarannya dalam mempengaruhi murid. Dengan demikian guru akan terdorong untuk mengembangkan diri secara professional.
Ada beberapa cara/alat untuk menilai diri sendiri yaitu:
1)      Buat suatu pandangan atau pendapat yang disampaikan kepada murid-murid
         untuk menilai pekerjaan atau suatu aktivitas (buat dalam bentuk pertanyaan
         bias pertanyaan \ tertutup atau terbuka dan tidak perlu menyebut nama).
2)     Menganalisis tes-tes terhadap unit kerja.
3)     Mencatat murid-murid dalam suatu catatan, baik mereka bekerja secara
        perorangan maupun secara kelompok.
  1. Teknik Supervisi Kelompok
Teknik supervisi kelompok adalah satu cara melaksanakan program supervisi yang ditujukan pada dua orang atau lebih. Guru-guru yang diduga sesuai dengan analisis kebutuhan, memiliki masalah atau kebutuhan atau kelemahan-kelemahan yang sama dikelompokkan atau dikumpulkan menjadi satu/bersama-sama. Kemudian pada kelompok ini diberikan layanan supervisi sesuai dengan permasalahan atau kebutuhan yang dihadapi.
Teknik supervisi kelompok ada beberapa diantaranya adalah:
1)      Kepanitiaan-kepanitiaan
2)      Kerja kelompok
3)      Laboratorium kurikulum
4)      Baca terpimpin
5)      Demonstrasi pembelajaran
6)      Darmawisata
7)      Kuliah/studi
8)      Diskusi panel
9)      Perpustakaan jabatan
10)  Organisasi professional
11)  Bulletin supervisi
12)  Pertemuan guru.
13)  Lokakarya atau konferensi kelompok.
  1. Langkah-langkah pembinaan kemampuan Guru
Ada beberapa langkah pembinaan kemampuan guru melalui supervisi akademik, yaitu: (1) menciptakan hubungan-hubungan yang harmonis; (2) analisis kebutuhan; (3) mengembangkan strategi dan media; (4) menilai, dan (5) revisi.
  1. Menciptakan Hubungan yang Harmonis
Langkah pertama dalam pembinaan keterampilan pembelajaran guru adalah menciptakan hubungan yang harmonis antara pengawas dan guru, serta semua pihak yang terkait dengan program pembinaan keterampilan pembelajaran guru. Dalam upaya melaksanakan supervisi akademik diperlukan kejelasan informasi antar personil yang terkait. Tanpa adanya kejelasan, maka guru akan bingung, tidak tahu apa yang diharapkan oleh kepala sekolah, dan meyakini bahwa tujuan pokok dalam pengukuran kemampuan guru, sebagai langkah awal setiap pembinaan keterampilan pembelajaran melalui supervisi akademik. Hal ini dilakukan untuk mengidentifikasi guru yang baik dan kurang terampil dala mengajar.
Untuk mewujudkan penciptaan hubungan yang harmonis diperlukan komunikasi yang efektif. Dalam komunikasi yang efektif memiliki sejumlah prinsip yang harus diterapkan oleh kepala sekolah, yaitu:
1)   Berbicara sebijaksana dan sebaik mungkin.
2)   Ikutilah pembicaraan orang lain secara seksama.
3)   Ciptakan hubungan interpersonal antar personil.
4)   Berpikirlah sebelum berbicara.
5)   Ikutilah norma-norma yang berlaku pada latar sekolah.
6)   Usahakanlah untuk memahami pendapat orang lain.
7)   Konsentrasikan pada pesanmu, bukan pada dirimu sendiri.
8)   Kumpulkan materi untuk mengadakan diskusi bila perlu.
9)   Persingkat pembicaraan.
10)Ciptakan ketindaksanggupan
11) Bersemangatlah.
12) Raihlah sikap orang lain untuk membantu program.
13) Berkomunikasilah dengan “eye communication”.
14) Selalu mencoba.
15) Jadilah pendengar yang baik.
16) Ketahuilah kapan sebaiknya berhenti berkomunikasi.
  1. Analisis Kebutuhan
Analisis kebutuhan sebagai langkah kedua dalam pembinaan keterampilan pengajaran guru. Secara hakiki, analisis kebutuhan merupakan upaya menentukan perbedaan antara pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang dipersyaratkan dan secara nyata dimiliki. Dalam rangka memenuhi prinsip ini diperlukan analisis kebutuhan tentang keterampilan pengajaran guru yang harus dikembangkan melalui supervisi pengajaran. Untuk melaksanakan kegiatan ini menggunakan langkah-langkah menganalisis kebutuhan sebagai berikut:
1) Mengidentifikasi kebutuhan-kebutuhan atau masalah-masalah pendidikan-
    perbedaan (gap) apa saja yang ada antara pengetahuan, keterampilan, dan
    sikap yang nyata dimiliki guru dan yang seharusnya dimiliki guru?
    Perbedaan di kelompok, disintesiskan dan diklarifikasi.
2) Mengidentifikasi lingkungan dan hambatan-hambatannya.
3) Menetapkan tujuan umum jangka pangjang.
4) Mengidentifikasi tugas-tugas manajemen yang dibutuhkan fase ini,
    seperti keuangan,sumber-sumber, perlengkapan dan media.
5) Mencatat prosedur-prosedur untuk mengumpulkan informasi tambahan tentang
    pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang dimiliki guru. Pergunakanlah teknik-
    teknik tertentu, seperti; mengundang konsultan dari luar sekolah, wawancara,
    dan kuesioner.
6) Mengidentifikasi dan mencatat kebutuhan-kebutuhan khusu pembinaan
    keterampilan pembelajaran guru. Pergunakanlah kata-kata perilau atau performasi.
7) Menetapkan kebutuhan-kebutuhan pembinaan keterampilan pembelajaran guru
    yang bias dibina melalui teknik dan media selain pendidikan.
8) Mencatat dan member kode kebutuhan-kebutuhan pembinaan keterampilan
    pembelajaran guru yang akan dibina melalui cara-cara lainnya.

Referensi :
Pidarta, Made. (1992). Pemikiran Tentang Supervisi pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara.
Purwanto, Ngalim. (2003). Administrasi dan Supervisi Pendidikan. Bandung: Rosdakarya.

Strategi Supervisi Pendidikan

Strategi Supervisi Pendidikan

       Secara umum strategi mengandung pergerakan suatu garis-garis besar haluan atau cara untuk bertindak dalam usaha mencapai sasaran yang telah di tentukan sebelumnya.Berdasarkan pengertian supervisi pendidikan yang telah dibahas sebelumnya,dapat disimpulkan bahwa strategi supervisi pendidikan adalah cara-cara atau metode khusus untuk memberikan bantuan kpda guru dlam memperbaiki situasi belajar mengajar.
Adapun strategi dasar yang dapat dilakukan supervisor dlm supervise pendidikan meliputi hal-hal berikut:
1. Meneliti dan mengamati pelaksanaan tugas kepsek atau guru
2. Menentukan apakah pelaksanaan tugas suatu sekolah baik atau buruk
3. Memperbaiki hal-hal yang dianggap kurang sesuai dg harapan supervisor
4. Memberikan bantuan kpd kepsek atau guru utk mengadakan perbaikan pelaksanaan tugasnya
5. Mengadakan kerja sama dengan kepala sekolah dan guru untuk menciptakan situasi belajar mengajar yang lebih baik.
Dalam menjalankan tugasnya sbg supervisor,antara supervisor yang satu dengan yang lainnya mungkin saja menggunakan metode pendekatan yang berbeda.Thomas JJ Serjiovanni mengatakan bahwa pelaksanaan supervise di sekolah sekarang di dasarkan pada satu atau merupakan kombinasi dari 3 teori kepengawasan pada umumnya,yakni:
Tradisional ( scientific management,human relasion,& neo scientific management”.(TJ Sergiovanni,1875 , hal 1-4)

Pendekatan-pendekatan terhadap supervise pendidikan ;
1. Tradisional scientific management.
Pendekatan ini melukiskan pandangan hasil supervise pendidikan yang otokratis.Guru-guru dianggap sbg alat management & dipakai untuk melaksanakan segala kewajiban yang telah di tentukan sesuai dg keinginan-keinginan managemen.Pengawasan,efisiensi,& pertanggung jawaban Guru-guru sangat diperlukan.Situasi hubungan antara guru dan supervisor mirip sekali dg hubungan antara majikan dg pembantunya,Sehingga system pengawasan terasa ketat dan kaku.Tugas supervisor sbg inspektur yg fungsinya memberi arah,mengecek cara-cara guru mengajar, menilai dengan hasil belajar sesuai dengan informasi yang di sampaikan serba instruksi.Meskipun pendekatan ini sudah jarang digunakan,namun sisa-sisa pengaruh dari teori ini masih dapat ditemukan di sekolah-sekolah tertentu.

2. Human relasions
Supervisi yang dipengaruhi oleh pandangan ini mendasarkan pada proses administrasi & management secara demokrasi.Guru-guru dipandang sbg “ manusia yang bulat” dan memiliki hak-hak pribadi bukan sekedar paket energi,ketrampilan dan sikap-sikap yang dibutuhkan oleh apa administrator maupun supervisor.Supervisor bekerja untuk menciptakan suatu kepuasan pada guru-guru dg jalan menunjukkan perhatian pada mereka sbg manusia.Pendekatan demikian didasari oleh pandangan bahwa sifat yang mempunyai kepuasan akan berusaha bekerja keras dan mudah diajak bekerja sama,di pimpin & dikontrol.Parsitipasi dijadikan metode yang penting,dg tujuan membuat guru agar mempunyai perasaan bahwa mereka penting dan berguna bagi sekolah.” Perasaan-perasaan pribadi” & “hubungan-hubungan yang menyenangkan” merupakan kata-kata semboyan dari pendekatan ini

3. Neoscientific management
Pendekatan ini lebih condong pada perhatian management ilmiah (pendekatan pertama) thd control,pertanggungan jawab, & efisiensi.Kata-kata semboyan gerakan pendekatan baru ini adalah “ kompetensi guru “,” sasaran-sasaran kegiatan” dan “analisa cost benefit”.Dimensi tugas,perhatian thd jabatan,& sasaran yang telah ditetapkan lebih ditekankan pada pendekatan ini ,meskipun sering mengorbankan dimensi manusia. Pengawasan yang rasional,non pribadi & teknis diterapkan sbg pengganti system yang dijalankan pada pendekatan pertama.Asumsi dasarnya :apabila standar2 kegiatan,sasaran2 dan kompetensi tertentu dapat diidentifikasi,maka pekerjaan para guru akan dapat dikontrol dengan berpedoman pada standar2 tsb untuk meyakinkan bahwa proses pengajaran yg dilaksanakan telah berjalan dengan baik.

4. Human resource
Pendekatan ini hampir sama dengan pendekatan human relation.yaitu sama-sama memperhatikan kepuasan pribadi guru dalam proses supervise.Hanya saja cara memandangnya yang berbeda secara kritis.Pendekatan human relation memandang ” kepuasan” sbg alat untuk menciptakan suatu kegiatan sekolah yang lancar dan efektif. Supervisor boleh jadi melibatkan guru dalam proses pengambilan keputusan,karena hal itu dianggap akan meningkatkan kepuasan guru. Guru-guru yang memperoleh kepuasan diduga secara otomatis akan mudah diajak bekerja sama,dipimpin dan karenanya efektivutas akan meningkat.Rasionalnya adalah guru-guru ingin merasa penting dan terlibat.Perasaan ini akhirnya akan melahirkan sikap baik guru thd sekolah,shg mereka mudah diatur.
 
Sedangkan human resource memandang kepuasan sebagai tujuan yang diinginkan ke arah mana guru-guru akan bekerja. Kepuasan akan diperoleh setelah segala aktifitas telah dikerjakan dg berhasil.Dan keberhasilan dalam menyelesaikan pekerjaan ini merupakn komponen kunci daripada efektifitas sekolah.Supervisor melibatkan guru-guru dalam proses pengambilan keputusan didasarkan pada potensi yang mereka miliki dianggap mampu meningkatkan efektifias sekolah.Suatu keputusan yang baik & komitmen guru yang tunggi thd keputusan yang diambil itu akan menjamin meningkatnya efektivitas kegiatan sekolah. Keberhasilan inilah yang nantinya akan meningkatkan kepuasan pada guru.

PRINSIP DAN ASPEK SUPERVISI

PRINSIP DAN ASPEK SUPERVISI
      Supervisi adalah kegiatan yang dilakukan oleh pengawas satuan pendidikan dalam rangka membantu kepala sekolah, guru dan tenaga kependidikan lainnya guna meningkatkan mutu dan efektifitas penyelenggaraan pendidikan dan pembelajaran ( Sudrajat, 2010).  Namun dalam pelaksanaannya, supervisi tidak hanya berorientasi pada hasil namun juga memperhatikan proses pencapaian tujuan agar dalam pencapaian tujuan bersama tidak ada aspek-aspek yang terpinggirkan dan kurang berkembang. Harapan supervisi adalah seluruh aspek yang berperan dalam peningkatan mutu dan efektivitas penyelenggaraan pendidikan dapat berkembang secara sinkron dan menyeluruh sehingga dapat mendukung satu sama lain sehingga akan mempercepat tercapainya tujuan pendidikan.
 
Menurut Akhmat Sudrajat (2010) spervisi ditujukan pada dua aspek yaitu manajerial dan akademik. Supervisi manajerial di sekolah berhubungan dengan sistem pengelolaan sekolah dan administrasinya, sedangkan supervisi akademik berkaitan dengan pengamatan terhadap proses pembelajaran yang dilakukan oleh guru dalam kelas. Dalam supervisi manajerial prinsip-prinsip yang harus dipenuhi adalah:
  1. Pengawas harus menjauhkan diri dari sifat otoriter
  2. Supervisi harus mampu menciptakan hubungan kemanusiaan yang harmonis
  3. Supervisi harus dilakukan secara berkesimnambungan
  4. Supervisi harus demokratis
  5. Program supervisi harus integral terhadap tujuan pendidikan
  6. Supervisi harus kompeherensif
  7. Supervisi harus konstruktif
  8. Supervisi harus obyektif
Sedangkan dalam supervisi akademik, Tahalele ( 1979 ) menyebutkan bahwa supervisi harus memenuhi prinsip:
  1.  Harus memberi kesempatan kepada supervisor dan guru-guru untuk mengadakan Self evaluation
  2. Supervisi harus berdasarkan kenyataan
  3.  Supervisi Harus dapat memberikan perasaan aman kepada guru-guru
  4.  Supervisi harus Ilmiah, sistematis, objektif dan menggunakan instrumen
  5.  Supervisi tidak boleh mencari-cari kesalahan guru
  6.  Supervisi tidak boleh terlalu memperhatikan hal-hal yang terlalu kecil dalam mengajar
  7.  Supervisor tidak boleh merasa dirinya lebih tahu dibandingkan guru
Dalam pelaksanaannya supervisi dapat dilakukan dengan berbagai macam metode dengan supervisi individual dengan tipe Laisses Faire, tipe Coersive, tipe training dan guidance atau tipe demokratis. Ataupun supervisi kelompok  kelompok dengan berbagai teknik seperti orientasi guru baru, rapat guru, studi kelompok antar guru, diskusi, workshop, ataupun sharring experience haruslah mengacu pada aspek-aspek supervisi. Aspek-aspek yang harus diperhatikan dalam supervisi dapat diamati pada tabel berikut:
 
No
Personal
Meliputi subyek yang terlibat dalam suatu situasi supervisi
Material
Mencakup segala benda baik yang bersifat hard ware maupun soft ware yang didayagunakan untuk memperlancar proses pembelajaran
Operasional
Mencakup aktivitas individu dan kelompok yang terlibat dalam suatu situasi dengan mendayagunakan segala sumber yang ada guna mencapai tujuan pendidikan
1
Kepala Sekolah
Kurikulum, program pendidikan, kebijakan sekolah
Proses mengajar guru, kerjasama sekolah dengan instansi lain, kepemimpinan kepala sekolah
2
Guru
Buku Pelajaran, kemampuan profesional guru, sarana prasarana mengajar
Proses belajar siswa, kehadiran dan aktivitas guru, kerjasama guru,
3
Karyawan
Komputer, data dan statistik sekolah, surat menyurat
Proses administrasi sekolah, pembukuan, surat menyurat, laporan sekolah, rumah tangga sekolah
4
Pengawas
Sarana Prasarana
Pelaksanaan evaluasi, kualitas hubungan interpersonal